Minat Peneliti Muda Meningkat

Puput Mutiara
25/8/2015 00:00
Minat Peneliti Muda Meningkat
(ANTARA FOTO/Jafkhairi)
Minat peneliti muda Indonesia kian mengalami peningkatan. Hal itu terlihat dari naiknya jumlah proposal karya ilmiah yang diterima oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di dalam ajang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) tahun 2015 yang mencapai 2.041 buah.

"Angka itu meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 1.431 buah atau naik sekitar 30%," ujar Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI saat jumpa pers acara pembukaan LKIR dan NYIA (National Young Inventors Award) di Jakarta, Selasa (25/8).

Kenaikan jumlah proposal pendaftar lomba itu dinilai sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan minat penelitian di kalangan remaja. Pasalnya, LKIR dan NYIA merupakan kompetisi ilmiah bagi siswa SMP dan SMA atau sederajat usia 12 sampai 19 tahun.

Adapun tujuan dari penyelenggaraan kegiatan tersebut, jelas Handoko, guna meningkatkan kesadaran dan kemampuan siswa dalam menganalisa permasalahan. Selain itu, diharapkan mampu mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

"LIPI akan terus memberikan motivasi lebih bagi generasi muda Indonesia, khususnya para peneliti muda untuk mengembangkan minat dan hasil penelitiannya," ungkap dia.

Salah satunya, yakni membantu untuk bisa mempatenkan hak cipta anak-anak Indonesia. Harapannya, dengan begitu ke depan akan ada industri yang tertarik sehingga hasil penelitian bisa dimanfaatkan secara masif.

Tercatat, ada dua karya dari peserta LKIR dan NYIA yang sudah dipatenkan. Pertama, helm pendingin hasil temuan Linus Nara Pradhana, siswa SMAN 16 Surabaya. Kala itu ia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Kemudian yang kedua, alat deteksi pupuk padi buatan Luthfi dari SMAN 1 Bogor yang dipatenkan tahun 2011 lalu. Bahkan, berkat temuannya itu ia diberikan beasiswa pendidikan S1 di Amsterdam, Belanda oleh Kemendikbud.

Diketahui, jumlah peneliti yang dimiliki oleh LIPI saat ini berjumlah 1.718 peneliti. Masing-masing peneliti memiliki fokus penelitian terhadap ilmu teknik, pangan, kesehatan, ilmu kebumian, keanekaragaman hayati, dan lingkungan serta ilmu sosial dan humaniora.

"Anak-anak di LKIR ini mengikuti lomba di empat bidang, diantaranya ilmu pengetahuan hayati, teknik, kebumian dan maritim, serta ilmu sosial dan kemanusiaan. Semuanya aplikatif," tuturnya.

Budaya meneliti

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain pun menyampaikan, bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat justru menjadi tantangan tersendiri bagi generasi penerus bangsa.

Lebih lanjut, Indonesia perlu meningkatkan kualitas kaum muda terutama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sehingga upaya-upaya penanaman budaya meneliti harus digalakkan.

"Kami bersama-sama mendorong mereka agar bisa tumbuh menjadi peneliti yang handal dan mampu menjadi motor pembangunan bangsa," cetusnya.

Menurutnya, generasi muda adalah aset bangsa dan harus terus dibina sebagai salah satu upaya membentuk positioning Indonesia di masa depan. Bukan hanya itu, tetapi juga bisa ikut mendorong percepatan inovasi.

Dukungan serupa diberikan oleh British Council Indonesia. Sebagaimana diutarakan Yanti Amran, Senior Relationship Manager & East Asia Regional Evaluation Manager bahwa penting adanya pengembangan budaya riset ilmiah di kalangan generasi muda.

"Kemitraan dengan LIPI adalah wujud dukungan kami. Sesuai tujuan Newton Fund, diantaranya mengupayakan jejaring ilmuwan muda Indonesia," ucapnya.

Pihaknya pun berkomitmen akan terus mendorong ilmuwan muda berprestasi asal Indonesia untuk berkompetisi dalam jenjang yang lebih tinggi lagi pada skala internasional. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya