MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya mengatakan kekeringan menjadi masalah utama yang melanda daerah poada daerah aliran sungai (DAS) lintas negara Indonesia-Timor Leste. Kekeringan membuat daerah DAS rusak ekosistemnya dan warganya mengalami berbagai kesulitan dalam keseharian. ''Bentang alam tidak seberapa besar pengaruhnya. Yang parah dan menyulitkan rehabilitasinya adalah masalah kekeringan,'' ujar Siti di Jakarta, Selasa (25/8). Siti juga mengatakan, sekitar 40% dari kawasan DAS lintas dua negara tersebut dalam kondisi rusak dan harus dilakukan rehabilitasi. Rencana kerjasama untuk pengelolaan DAS tersebut nantinya akan dibahas dalam penyusunan Rencana Pengelolaan DAS (RPDAS) Lintas Negara. Pakar DAS KLHK Eka Widodo Soegiri mengatakan, penyusunan RPDAS baru akan dilakukan saat ini selepas kunjungan Menko Perekonomian sekaligus Menteri Pertanian dan Perikanan Timor Leste, Estanislau Aleixo da Silva ke Indonesia, beberapa waktu lalu. ''Soal DAS termasuk salah satu poin di nota kesepahaman yang ditandatangani di Istana Negara pada 26 Agustus mendatang,'' ujarnya. Menurut Eka, penyusunan rencana pengelolaan DAS lintas negara perlu diatur oleh kedua negara. Hal itu karena untuk mengelola DAS, harus dilakukan menyeluruh dari hulu hingga hilir aliran sungai. Kedua negara perlu berdiskusi dan bekerja sama guna mempersiapkan tindakan hingga biaya yang perlu dialokasikan untuk program tersebut. ''Belum ada daftar tindakan dan anggaran, semua akab dibicarakan dalam rencana penyusunan yang segera dimulai pada tahun ini,'' terangnya. (H-2)