Suhu Tinggi di Tanah Suci Tingkatkan Risiko Penyakit Jamaah
Putri Rosmalia Octaviyani
23/8/2015 00:00
(--(ANTARA/Aloysius Jarot))
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Untung Suseno mengatakan virus MERS Co-V yang saat ini dikabarkan mewabah di Arab Saudi menjadi hal yang harus sangat diwaspadai jamaah haji. Jamaah diwajibkan terus menggunakan masker dan menghinndari tempat-tempat yang rawan menjadi media penyebaran virus seperti rumah sakit dan klinik umum. Selain itu, jamaah juga diwajibkan menjauhi unta, karena sebanyak sekitar 50 persen unta membawa virus tersebut.
"Sejak sebelum berangkat, calon jamaah haji sudah rutin kami berikan penyuluhan akan hal-hal apa saja yang harus dihindari agar terhindar dari berbagai penyakit berbahaya, sejak dari tingkat kabupaten hingga selama masa haji di Arab Saudi, mereka terus diberikan arahan dan peringatan," ujat Untung.
Dikatakan Untung, virus MERS Co-V hingga saat ini belum dilaporkan terjadi di wilayah Madinah, Makkah, dan Jedah sebagai pusat dilaksanakannya ibadah haji. Virus tersebut belum lama ini ramai diberitakan menjangkit beberapa tenaga medis di Kota Riyadh. Dengan masuknya musim haji dikhawatirkan virus tersebut akan dapat menyebar akibat banyaknya jamaah yang menyebar dan berasal dari berbagai daerah.
"Kami terus memantau perkembangan dan penyebaran virus ini. Di sana (Arab) tenaga medis juga terus kami himbau untuk terus memantau kondisi jamaah di setiap kloternya," tambah Untung.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes, Mohamad Subuh mengatakan kondisi cuaca yang sangat panas di Arab Saudi saat ini menjadi ancaman utama bagi jamaah yang akan menjalankan ibadah haji. Suhu di Makkah, Madinah, dan Jedah saat ini mencapai 50 derajat celcius. Kondisi tersebut sangat rawan menyebabkan dehidrasi, terutama bagi jamaah yang telah lanjut usia dan dengan kondisi tubuh kurang sehat.
"Ini dapat mengancam kesehatan, apalagi bila jamaah kurang minum. Mereka setidaknya harus minum 3 liter air dalam sehari," ujar
Subuh menjelaskan kondisi tubuh jamaah yang menurun akibat kelelahan dan dehidrasi dapat memicu mudahnya tubuh terserang virus. Terutama bagi jamaah dengan faktor resiko terserang virus yang tinggi. jamaah yang telah lanjut usia juga menjadi perhatia utama karena kondisi tubuh yang lebih rentan penyakit.
"jamaah masing-masing sudah punya catatan riwayat penyakitnya. Data dimiliki tenaga medis yang bertanggung jawab pada setiap kloter. Di sana jamaah diwajibkkan mengenakkan gelang sebagai penanda kondisi tubuh. Pasien dengan riwayat atau tengah menderita penyait tertentu seperti dabetes dan hipertensi diberikan gelang berwarna merah," terang Subuh.
Sejak awal keberangkatan, calon jamaah telah difasilitasi dengan masker sebanyak 50 buah untuk setiap orang. Masker tersebut wajib digunakan selama ibadah guna mengurangi resiko penularan penyakit. Selain itu, jamaah juga diharapkan rajin berkonsultasi dengan petugas medis yang telah disediakan untuk menangani setiap kloter sejak sebelum berangkat dari daerahnya masing-masing.
"Total ada sekitar 1300 tenaga medis yang terdiri atas dokter umum, spesialis, perawat, hingga tenaga ahli di bidang farmasi," ujar Subuh.
Virus MERS Co-V menjadi ancaman bagi jamaah haji sejak sekitar tahun 2012. Data WHO di Juni 2015 mnyebutkan, sejak pertama kali ditemukan menjangkiti manusia pada 2012, hingga saat ini setidaknya telah terdapat 400 korban meninggal yang berasal dari 25 negara di dunia. Arab Saudi menjadi salah sat negara dengan jumlah kasus terbanyak. Dalam Satu minggu terakhir ini, di Arab Saudi tercatat sudah terdapat 18 kasus baru MERS Co-V dengan jumlah 3 korban tewas di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh. (Q-1)