Kemendikbud Luncurkan Gerakan Literasi Sekolah Berbasis Budi Pekerti

Meilikhah
18/8/2015 00:00
Kemendikbud Luncurkan Gerakan Literasi Sekolah Berbasis Budi Pekerti
(Ilustrasi/ANTARA/Nova Wahyudi)
KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan melalui Peraturan Menteri nomor 23 tahun 2013 meluncurkan sebuah gerakan literasi sekolah untuk menumbuhkan sikap budi pekerti luhur kepada anak-anak melalui bahasa.

Gerakan ini akan mewajibkan seluruh anak sekolah mengawali kegiatan belajarnya dengan membaca literatur-literatur yang tak berhubungan dengan mata pelajaran di sekolah.

"Kegiatan ini dalam rangka menumbuh-kembangkan anak menjadi sosok yang utuh dengan mewajibkan membaca sebelum jam pelajaran dimulai, karena ini kurikulum budi pekerti, kegiatan baca tulis juga harus menumbuhkan budi pekerti anak," kata Kepala Badan Bahasa Kemendikbud, Mahsun, di Balairung Kirana, Jakarta Selatan, Selasa (18/8).

Dalam hal tersebut disampaikan Mahsun, anak dibebaskan untuk membaca literatur yang mereka suka. Dengan syarat bacaan tersebut berhubungan dengan budi pekerti. Menurutnya tak masuk akal menumbuhkan budi pekerti anak melalui buku-buku pelajaran umum yang tak membahas tentang budi pekerti.

Dia mencontohkan, anak-anak bisa membaca kisah, cerita maupun dongeng-dongeng lokal yang bercerita tentang budi pekerti seperti cerita rakyat maupun cerita tentang kearifan lokal. Dari buku-buku tersebut anak bisa mencontoh sikap budi pekerti yang dilakonkan oleh para tokoh cerita.

"Nanti cerita-cerita itu disesuaikan dengan kemampuan berbahasa dan daya pikir anak," katanya.

Hanya 58 judul layak dibaca

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan gerakan literasi berbasis budi pekerti melalui bahasa. Literasi tersebut berasal dari buku-buku bacaan cerita lokal dan cerita rakyat yang memiliki kearifan lokal dalam materi bacaannya.

Gerakan tersebut didukung dengan adanya buku-buku bacaan di luar buku pelajaran yang diperuntukan bagi anak-anak sekolah. Gerakan itu juga mewajibkan setiap sekolah memberikan waktu bagi anak-anak untuk membaca literatur yang mereka suka sebelum jam pelajaran di mulai

"Terkait budi pekerti kita sebenarnya punya cerita lokal tentang keluhuran budi pekerti tokohnya, ada 446 judul," kata Mahsun, di Balairung Kirana, Jakarta Selatan, Selasa (18/8).

Sayangnya, Mahsun mengatakan hanya puluhan buku saja yang siap mendukung gerakan tersebut. 446 buah buku tersebut diseleksi, mulai dari isi bacaan hingga bahasa yang digunakan agar mudah dipahami anak-anak dan menghilangkan kata atau kalimat yang tak seharusnya ada dalam buku.

"446 judul kami seleksi, hasilnya 170 yang layak dibaca kemudian kembali diperbaiki hingga menyisakan 58 judul saja yang layak baca dari isi dan bahasa," kata Mahsun.

Mahsun mengaku tak mau lagi kecolongan dengan bahan bacaan yang 'berbahaya' bagi anak-anak usia sekolah. Pengalaman cerpen berjudul Gerhana pada kurikulum 2013 cukup menjadi contoh buruk penggunaan bahasa bagi anak-anak sekolah.

"Dulu kan ada cerpen Gerhana yang sempat heboh, makanya judul-judul bacaan untuk anak ini kami hati-hati menyeleksinya," jelas Mahsun.

Terkait literasi sekolah yang bisa dibaca anak-anak sebelum memasuki jam pelajaran, ada beberapa jenis buku yang bisa menjadi bahan bacaan. Di antaranya, melalui buku cerita lokal, dongeng lokal yang mengandung kearifan lokal bangsa Indonesia, sejarah lokal, sejarah nasional yang menggambarkan ketokohan, dan beberapa jenis buku lain yang membantu menumbuh-kembangkan budi pekerti anak. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya