Kurangi Keluhan Pascaoperasi dengan Robotic Surgery
Putri Rosmalia Octaviyani
18/8/2015 00:00
(ILUSTRASI--AFP/FRANCOIS GUILLOT)
Teknologi bedah dengan menggunakan robot (Robotic Surgery) menjadi salah satu pilihan terbaik untuk mengurangi berbagai keluhan pasca operasi. Dengan menjalani bedah dengan menggunakan salah satu mesin tenaga medis tercanggih di dunia ini, pasien akan dapat lebih cepat pulih. Besaran luka akibat bedah secara signifikan lebih kecil dibandingkan dengan operasi non robot.
Proses robotic surgery juga terbukti lebih efektif dan efisien. Kecanggihan aplikasi di dalamnya membuat akurasi dokter dalam menjalankan operasi menjadi lebih tinggi. Tingkat rasa nyeri yang ditimbulkan akibat operasi pada pasien juga jauh lebih rendah. Selain itu, angka darah yang dikeluarkan selama proses operasi juga tidak lebih dari 200 mililiter.
"Ini adalah sebuah terobosan teknologi di bidang medis. Di negara-negara maju teknologi ini sudah banyak digunakan dan mulai dijadikan andalan," ujar Wahyu Hadisaputro, President Indonesian Gynecological Endoscopy Society (IGES) di acara seminar dan live robotic surgery di RS Bunda, Menteng, Jakarta.
Dengan robotic surgery, pasien hanya akan mendapat sedikit luka sayatan di sekitar tubuh yang akan dilakukan operasi. Sayatan tersebut digunakan untuk memasukkan alat bedah yang terhubung langsung melalui serat fibreoptic ke surgeon console (simulator). Alat-alat tersebut dikontrol secara langsung oleh dokter dan asisten yang melakukan tindakan melalui media layar robot da vinci.
Layar pada robot menayangkan bagian dalam tubuh yang menjalani operasi melalui kamera yang juga dimasukkan ke tubuh bersama dengan alat bedah dari mesin simulator. Untuk dapat melakukan robotic surgery, dokter terlebib dulu harus mengikuti pelatihan dan mendapatkan sertifikasi keahlian bedah robotic yang diakui secara internasional.
Robotic surgery dapat diaplikasikan untuk berbagai jenis pembedahan. Berbagai jenis pembedahan penyakit seperti miom, prostat, hingga permasalahan pada sekitar perut, dada, dan kepala dapat ditangani dengan proses ini. Namun, setiap pasien dengan kondisi tubuhnya yang berbeda harus terlebih dulu berkonsultasi dengan dokter untuk memutuskan apakah ia dapat melakukan bedah robotik.
Dalam sejarah kedokreran, robotic surgery adalag pengembangan dari alat minimal invasive seperti laparaskopi. Teknologi pembedahan dengan menggunakan kamera sebagai pemantau organ dalam pasien dengan tujuan meminimalkan luka ini pertama kali ditemukan pada tahun 1902 oleh seorang internis dan surgeon asal German, George Kelling. Laparaskopi berhasil diaplikasikan pada manusia pertama kali pada tahun 1910 dan mulai mneyebar di kalangan media pada 1966 di Amerika Serikat. Setelah itu, sejak menjekang tahun 2000-an, robotic surgery mulai perlahan dikembangkan hingga saat ini.
Di Indonesia, robotic surgery baru terdapat di RS Bunda, Menteng Jakarta Pusat. Satu set mesin da Vinci Surgical System telah digunakan sejak tahun 2012 silam. Selama tiga tahun tersebut, sebanyak 142 pembedahan sukses dilakukan dengan menggunakan robot da vinci.
Masih tingginya harga dari setiap satu set perangkat mesin robotic surgery menjadi penyebab utama sulitnya rumah sakit untuk menyediakan pilihan fasilitas operasi ini. Harga satu mesin robot da vinci saat ini berkisar Rp200 miliar. Singapura menjadi negara terdekat dari Indonesia yang dapat mendatangkan mesin ini.
"Tentu ini menjadi hambatan rumah sakit di Indonesia untuk dapat bersaing dengan negara-negara maju juga negara-negara tetangga yang telah lebih dulu dan lebih banyak memiliki perangkat robotic surgery," tambah Wahyu.
Sementara itu, CEO RS Bunda Rizal Sini mengatakan upaya pengadaan robot da vinci dilakukan guna memberikan kualitas layanan tingkat internasional. Selain itu, keberadaan robotic surgery di Indonesia juga diharapkan dapat meringankan beban warga Indonesia yang ingin melakukan robotic surgery dalam hal biaya.
"Biaya memang lebih besar, tetapi tentu sebanding dengan hasil yang didapatkan pasien," terangnya.
Biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan robotic surgery bervariasi tergantung pada tingkat keparahan penyakit. Namun, umumnya rata-rata biaya yang dikeluarkan adalah sekitar Rp100 juta-Rp150 juta. Biaya tersebut jauh lebih murah bila dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan bila menjalaninya di luar negeri seperti Singapura yang mencapai Rp200 juta-Rp300 juta. (Q-1)