Penyuluh Sosial Diprioritaskan pada Narkoba dan Pornografi
Fetry Wuryasti
14/8/2015 00:00
(ANTARA/Irfan Anshori)
Kementerian Sosial sedang menghitung dari seluruh kementerian lembaga yang bersama-sama ikut melakukan rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba baik medik maupun sosial.
"Baru nanti kita akan hitung kembali target dari korban penyalahgunaan narkoba pada tahun 2016. Presiden pesan tahun 2016 targetnya adalah merehabilitasi 200 ribu korban. penyalahgunaan," ujar Khofifah pada Acara Jambore Penyuluh Sosial dan Kongres Ikatan Penyuluh Sosial Indonesia (IPENSI), di Sentul, Bogor, Kamis (13/8) sore.
Pada hari anti narkotika internasional tanggal 25 juni lalu, Presiden memberikan pesan bahwa 2016 diharapkan rehabilitasi konten penyalahan guna narkoba bisa menjangkau sampai 200 ribu klien Kementerian Sosial akan punya peran yang signifikan. Alasannya, proses rehabilitasi medik, tutur Khofifah, sebetulnya tidak tuntas kalau tidak diikuti proses rehabilitasi sosial.
"Kementerian sosial bukan pada proses detoksifikasinya. Tetapi lebih pada proses pemulihan sosial, dan fungsi-fungsi sosial supaya bisa berjalan kembali secara maksimal,"
Untuk itu, Kemensos pada tahun 2015 sudah selesai menyiapkan tambahan 700 peksos dan 500 konselor. Dengan adanya kegiatan jambore penyuluh sosial dan kongres ikatan penyuluh sosial Indonesia (IPENSI), akan menjadi bagian dari upaya penyiapan konselor-konselor baru sekaligus penyuluhan sosial kepada masyarakat.
"Kita sementara fokus kepada dua hal , yang pertama adalah narkoba. Yang kedua soal pornografi atau kekerasan seksual. Ini akan menjadi besaran pusat penyuluhan sosial (puspensos ) di Kemensos,"
Dua fokus ini disampaikan Khofifah karena naroba juga enjadi fokus besar Presiden. Akibat narkoba, uang masyarakat telah habis menembus biaya Rp63 triliun pada tahun 2015.
"Bila jumlah ini digunakan untuk UKM, tentu sudah meningkatkan produktivitas ekonomi yang luar biasa,"
Lalu fokus kedua kepada pornografi dan kekerasan seksual. Aktifitas yang terjadi Indonesia untuk tindakan mendownload dan mengupload konten seksual di internet cukup signifikan, yakni nomor dua di dunia dan nomor satu Asia untuk kasus pedofil.
"Anak-anak sudah harus diantisipasi dari kemungkinan dia akan menjadi eksploitasi dari kepentingan para oknum. Terutama untuk pedofil, Indonesia masih nomor 2 terbesar di dunia dan nomor 1 di Asia. Hal-hal seperti ini harus dilakukan berseiring untuk penyelamatan generasi bangsa,dan itu akan menjadi fokus dari pusat penyuluhan sosial," tukas Khofifah . (Q-1)