Pemerhati Pendidikan Ifa Misbach: Bangun Tradisi Baru dalam MOS

Syarief Oebaidillah
11/8/2015 00:00
Pemerhati Pendidikan Ifa Misbach: Bangun Tradisi Baru dalam MOS
(ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Selama ini, persoalan kekerasan yang menyertai pelaksanaan MOS di kebanyakan sekolah telah dianggap menjadi tradisi ‘perpeloncoan ’ yang diwariskan dari generasi alumni sekolah ke generasi calon siswa baru. Kemudian terjadi pembiaran kekerasan di dalam lingkungan pendidikan yang berlangsung puluhan tahun secara keliru.

Calon siswa baru mempelajari bahwa memang demikian seharusnya untuk dapat diterima sebagai warga baru sekolah, mereka harus mengalami dahulu menjadi korban yang tak berdaya dengan mengalami tradisi kekerasan yang merendahkan martabat kemanusiaan mereka.

Lalu,tiba waktunya, saat siswa didik baru ini menjadi senior, maka siklus kekerasan sulit diputus karena korban berganti peran menjadi pelaku yang menyalurkan dendam pada calon siswa baru berikutnya melalui kekerasan fisik dan verbal seperti yang pernah mereka alami dahulu.

"Inilah yang dinamakan tradisi kekerasan primitif dalam dunia pendidikan yang harus ditinggalkan.

"Saatnya sekarang dunia pendidikan kita harus berubah membenahi kekeliruan mindset yang telah mendarah daging dengan membiarkan perpeloncoan sebagai kewajaran menjadi tradisi bullying, padahal itu tidak wajar karena hanya akan membangun ekosistem pendidikan yang saling melemahkan, saling menjatuhkan, saling menghabisi dengan siklus dendam yang sulit diputus antar generasi,"papar pemerhati pendidikan Ifa H Misbach saat dihubungi Media Indonesia.

Dia menanggapi itu, terkait rencana Kemendikbud yang sedang menggodok format baru dalam MOS pasca tewasnya sejumlah pelajar yang diduga terkait perpeloncoan MOS.

Dosen Psikologi Pendidikan Karakter di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini menegaskan seyogyanya dibangun tradisi baru dalam MOS yang saling meneguhkan ikatan ekosistem pendidikan ,yang saling menguatkan, menantang petualangan ilmu untuk melahirkan tradisi baru lahirnya para calon pemimpin muda bangsa yang mampu memimpin dirinya dan orang lain dengan jiwa pembelajar sepanjang hayat.  

Ia mengutip Permendikbud No 55 tahun 2014, tentang Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) atau MOS yang bertujuan mengenalkan program sekolah,mengenalkan lingkungan sekolah, mengenalkan cara belajar,penanaman konsep pengenalan diri, pembinaan awal terbentuknya budaya sekolah yang menunjang proses pembelajaran. 

"Jadi semua sekolah harus memahami bahwa tujuan MOS tidak berubah, yang berubah adalah metodenya. Maka pilihlah metode yang tidak melanggengkan kekerasan karena itu bukan tujuan MOS," tegasnya.

Ia menyarankan sekolah memilih metode MOS yang mampu menstimulasi lahirnya calon-calon pemimpin bangsa yang akan bergerak dan berkarya 25 tahun mendatang di seluruh bidang.

" Jangan rengut masa remaja titipan bangsa dengan memberikan memori kekerasan yang berujung pada traumatik di alam bawah sadar kolektif mereka sehingga kemudian banyak anak remaja gagal tampil penuh percaya diri bukan karena mereka tidak pintar tapi mereka mengalami kekacauan emosi yang terlanjur dikerdilkan oleh tradisi kekerasan perpeloncoan MOS yang keliru," tandasnya.

Ia mengingatkan,bagaimana Indonesia akan memiliki calon pemimpin tangguh membawa kemajuan di abad 21 jika kita banyak diwarisi calon-calon pemimpin bangsa yang banyak menyimpan kecemasan akibat luka batin yang tak pernah tersembuhkan.

"Yang pertama harus diketahui semua pihak adalah sudah lama banyak terjadi krisis keteladanan di lingkungan sekolah sehingga dalam menggagas MOS dalam format baru maka kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan di sekolah harus menjadi teladan utama bagi para murid dalam aspek keterampilan sosial dan akademik,"ujarnya.

Ia menganjurkan orang tua harus menjadi mitra aktif yang tidak hanya menyalahkan pihak sekolah tetapi memberikan masukan yang konstruktif bagi penyelenggaraan MOS yang lebih bermanfaat bagi siswa.

Dalam kesempatan itu, Ifa H Misbach yang juga Kepala bidang penelitian-Pusat Psikologi Terapan (P2T) UPI

mengemukakan sejumlah tips menciptakan metode MOS yang menghasilkan kegiatan produktif antara lain,

Pertama, ciptakan suasana bagi siswa baru bahwa lingkungan sekolah baru adalah ruang aman dan hangat seperti di rumah sendiri.

Kedua, sebagai remaja yang masih dalam proses tumbuh kembang, maka latihlah siswa baru untuk memahami dan membedakan mana konsep diri positif dan negatif. Latih analisa kritis siswa tersebut dengan menghayati apa konsekuensi atas pilihannya dalam memilih dan merasakan konsep diri positif atau negatif untuk masa depan pribadinya dan untuk lingkungan yang akan ia masuki kelak.

Ketiga, berdasarkan tugas perkembangan remaja untuk bisa mandiri, latih sikap bertanggung jawab dengan memberikan kepercayaan siswa baru dalam memimpin bergantian mengerjakan project sekolah yang bermanfaat baik untuk mengharumkan nama sekolah maupun yang berguna masyarakat di sekitar sekolah seperti panti asuhan, panti jompo, merawat taman di sekitar sekolah, dan lain lain, yang dibimbing oleh guru dan kakak kelasnya.

Hal ini akan membangun ikatan kelompok yang kuat, menciptakan rasa saling percaya, terjadi pembelajaran yang rileks dan kolaboratif yang akan mencairkan sekat jarak kekuasaan dari kakak kelas ke adik kelas baru.

Ke empat, mengajarkan time-menagement pada siswa baru, misalnya mengenalkan jadwal rutin sekolah (intrakurikuler maupun ekstrakurikuler).

Kelima, mengajarkan cara menggunakan, menjaga, dan merawat fasilitas sekolah. Dimulai dari  mengenalkan lingkungan fisik sekolah dan barang-barang dan fasilitas milik sekolah di ruangan kelas, lapangan olahraga, kantin, toilet, taman, sampai dengan lingkungan sekitar sekolah, dan lain lain. Para siswa harus tahu secara detail agar merasa familiar dengan semua fasilitas fisik sekolah.

Ke enam,siswa baru perlu didengar suaranya, apa yang mereka harapkan sebagai warga baru sekolah. Misalnya dengan menanyakan dan menetapkan harapan dan target terkait prestasi akademik, peningkatan praktek baik yang mereka lakukan dalam kehidupan sosial sehari-hari yang akan dicapai para siswa baru selama satu tahun mendatang.

Langkah ini,lanjut Ifa, menjadi amat penting karena mereka tahu cara terbaik untuk mendorong diri mereka sendiri menjadi pembelajar sepanjang hayat melalui sejumlah keterampilan sosial seperti sikap peduli, mandiri, bertanggung jawab, pemberani, kritis, inisiatif, empati).

Jangan lagi memperlakukan siswa baru sebagai objek yang tidak bermartabat, ini para calon pemimpin muda bangsa yang perlu diketahui sejak awal karakteristik personal siswa,  mengetahui latar belakang dan karakteristik orangtua sama pentingnya dengan mengetahui karakteristik siswa baru agar kerjasama pihak sekolah dan orang tua berjalan sinergis.

Ideal


Sementara itu, Komisioner KPAISusanto menyatakan MOS yang ideal adalah secara prinsip tidak mengandung muatan kekerasan secara psikis, verbal, fisik, seksual maupun bullying. Ia juga senada dengan Ifa H Misbach agar model bari dalam MOS yang sedang dirancang Kemendikbud melibatkan sejumlah komponen dalam masyarakat.

" Dalam hal penyusunan model MOS yang senafas dengan spirit pendidikan dan perlindungan anak, dapat melibatkan unsur orang tua, komite sekolah, pegiat pendidikan, pegiat perlindungan anak, perguruan tinggi,"pungkasnya singkat.

Pada bagian lain Irjen Kemendikbud Daryanto dan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad saat dikonfirmasi mengakui masih membahas format baru MOS ke depan.

"Kita masih shopping ide, nanti jika tuntas kita undang pers," ungkap Hamid.

Daryanto menyatakan pihaknya sedang membahas secara internal mengkaji area of improvement atau AOI .

Menurutnya, melibatkan peran orang tua merupakan salah satu AOI tersebut." Yang tak kalah penting adalah sosialisasi yang kuat tentang MOS yang menjelaskan tujuan, teknik pelaksanaan, hingga hasil yang diharapkan,"pungkasnya.(Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya