Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Sigit Priohutomo mengatakan bahaya hepatitis sebagai penyakit menular yang mematikan masih belum familiar di masyarakat.
Minimnya gejala yang ditimbulkan ketika virus belum akut serta kurangnya pengetahuan masyarakat atas penyakit tersebut menjadi penyebab utama tingginya angka kematian akibat sirosis atau kanker hati akibat hepatitis yang terlanjur kronis. Padahal, berdasarkan data Kemenkes, setiap tahun di Indonesia sekitar 28 juta orang telah positif terinfeksi virus hepatitis.
"Gejala yang jelas baru umumnya akan terlihat ketika penyakit telah menyentuh fase akut. Untuk itu, sangat penting bagi setiap orang mewaspadai dengan menimbabg faktor resiko yang ada pada dirinya masing-masing," ujar Sigit saat mengisi acara diskusi peringatan hati hepatitis di Kemenkes, hari ini.
Dijabarkan Sigit, seseorang harus lebih waspada terhadap penyakit yang menyerang hati ini apabila dirinya pernah melakukan kegiatan yang bersentuhan dengan alat bekas pakai bersama. Contohnya pembuatan tato, jarum suntik pada pengguna narkoba, alat tindik, hingga jarum transfusi. Selain itu, anak yang lahir dari ibu penderita hepatitis juga harus lebih wasapada dan melakukan vaksin hepatitis.
Selain hal-hal tersebut, virus hepatitis juga dapat masuk ke tubuh manusia lewat feses penderita yang tidak sengaja terampur dengan makanan. Pada penularan dengan cara ini, jenis hepatitis yang akan menyerang adalah hepatitis A dan E.
"Itu semua harus dihindari. Namun hepatitis tidak menular melalui ASI, makanan dan minuman, serta kontak fisik normal seperti sentuhan dengan penderita hepatitis," terang Sigit.
Sementara itu Kepala Unit Transfusi Darah Pusat PMI, Ria Safitri mengatakan banyak masyarakat, khususnya pendonor darah yang sudah terindikasi terinfeksi virus namun masih tetap apatis terhadap kondisi dirinya. Hanya sekitar 15--30 persen warga pendonor darah yang terdeteksi terjangkit virus yang kemudian memeriksakan diri secara intensif.
"Banyak yang tidak menggubris, bahkan di data terkadang tidak lengkap sehingga sulit menghununginya. Hal ini meningkatkan resiko penularannya," ujar Ria.
Untuk menangani masalah tersebut, dikatakan Ria dan Sigit kampanye akan bahaya hepatitis terus dilakukan di masyarakat. Sosialisasi akan gejala, bahaya, serta cara pengobatannya juga terus dijalankan. Sebab dikatakan mereka hepatitis bisa ditekan bahayanya bahkan hepatitis c sudah memiliki obat yang dapat menyembuhkan hingga 100 persen.
Diskusi dan kampanye hepatitis gencar dilakukan baik oleh badan kesehatan Indonesia ataupun dunia. Hal tersebut karena saat ini, angka kematian akibat hepatitis sudah menyentuh satu juta jiwa per tahun di seluruh dunia. Sementara di Indonesia, sekitar 14 ribu jiwa melayang setiap tahun. (Q-1)