Pengaturan Data Diaspora Jadi Kendala Optimalisasi
Yanurisa Ananta
05/8/2015 00:00
(DOK)
Pengaturan basis data diaspora Indonesia yang tersebar di seluruh dunia dinilai menjadi kendala kurang optimalnya pemanfaatan diaspora. Padahal potensi diaspora penting dalam pertumbuhan ekonomi. Selain karena jumlah diaspora Indonesia yang sedikit, pencatatan data diaspora juga menjadi kendala.
"Kita sedang menginisiasi kartu diaspora agar kita tahu berapa diaspora yang dimiliki Indonesia. Agar jelas peta dan pekerjaan mereka apakah profesional, pengusaha, atau ilmuwan," papar Staf Ahli bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya/ Duta Besar Kementerian Luar Negeri M Wahid Supriyadi, di Jakarta, Rabu (5/8).
Ia menargetkan kartu diaspora bisa rampung tahun ini. Ia menyebut saat ini sudah ada Ikatan Insinyur Internasional Indonesia namun belum lengkap sehingga membutuhkan pemetaan lebih.
Saat ini, kartu diaspora sudah memiliki legal basis. Kementerian Luar Negeri sudah menyetujui tinggal bagaimana teknis di lapangan dan sistemnya.
"Nanti mereka bisa daftar di masing-masing perwakilan kita, ada counter khusus," tambahnya.
Jumlah diaspora Indonesia yang tersebar di seluruh dunia saat ini berjumlah sebanyak tujuh juta orang. Jumlah tersebut lebih sedikit dibanding India yang mencapai 60 juta diaspora dan Tiongkok sebanyak 80 juta.
Bahkan diaspora Filipina sudah berkontribusi ke devisa negara sebesar 25% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini disebabkan mereka memiliki dua kewarganegaraan karena dinilai memudahkan.
Melihat potensi diaspora Indonesia, Kementerian Luar Negeri kembali menggelar Kongres Diaspora III di bulan Agustus ini. Sebelumnya Kongres serupa diadakan pada tahun 2012 di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), dan kedua kali di tahun 2013 di Jakarta.
Dengan mengangkat tema Bakti Bangsa diharapkan ada ribuan diaspora yang hadir. pada Kongres pertama sebanyak tiga ribu diaspora hadir dan enam ribu orang dari dalam negeri.
"Kontribusi 20 tahun pertama diaspora di Tiongkok mencapai US$370 miliar. Bahkan Vietnam sudah memahami diaspora sebagai potensi," tambah Wahid.
Beberapa tokoh yang akan hadir diantaranya, Sutradara asal Indonesia Livi Zheng yang berhasil menembus pasar Hollywood, tokoh agama di New York Imam Syamsi Ali, serta CEO Crown Group Holding Iwan Sunito.
Presiden dari yayasan Diaspora Indonesia Global Hamdan menyatakan diharapkan kongres ini bisa mengurangi fenomena Brain Drain dimana Warga Negara Indonesia (WNI) enggan kembali ke Tanah Air.
"Pentingnya diaspora adalah bagaimana kita mengurangi fenomena drain brain. Bagaimana caranya diaspora bersinergi mengerucutkan kemampuan untuk berbakti pada bangsa," jelas Hamdan.
Gelaran yang dimulai 8-9 Agustus di jakarta ini saat ini baru menerima pendaftar sebanyak 800 orang secara on-line. Ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya sebanyak 3.000 diaspora. (Q-1)