Galeri Apik Gelar Pameran Seni Rupa Kontemporer dan Vintage Stamps

Syarief Oebaidillah
02/8/2015 00:00
 Galeri Apik Gelar Pameran Seni Rupa Kontemporer dan Vintage Stamps
(--(Dok))
Setelah sukses memamerkan batik, tenun, dan kebaya kuno yang langka, Galeri Apik kembali menggelar pameran koleksi karya seni. Galeri yang berlokasi di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, ini menampilkan pula koleksi vintage stamps atau perangko kuno dikontraskan dengan koleksi seni rupa kontemporer.

Pameran ini menampilkan usia perangko dari 52 negara yang dipamerkan mencapai usia 50 tahun. Paling muda buatan tahun 1970.

Vintage stamps tersebut dipamerkan dalam even bertajuk "ConTemporary or Temporary: Visual Arts and Vintage Stamps Exhibitions" mulai 1 Agustus - 1 September 2015 mendatang.

Dipamerkan bersama dengan sejumlah lukisan kontemporer karya seniman tanah air dan Tiongkok.

"Perangko juga bagian dari seni. Dibuat oleh seniman, dilukis di atas kertas, baru dicetak menjadi perangko," kata Direktur Galeri Apik, Rahmat, di sela-sela pameran,Galeri Apik,Jakarta,melalui rilisnya kepada pers, Minggu (2/8).

Menurut Rahmat, perangko merupakan bagian dari seni kontemporer. Dibuat sesuai masa atau periode zamannya, guna suatu motif atau berbagai tujuan dan berkonsep demi masa depan.

"Perangko seiring waktu pada akhirnya juga bisa bernilai mahal karena keantikan, keunikan, dan nilai sejarahnya. Sehingga di berbagai belahan dunia diakui memiliki fungsi investasi seperti halnya lukisan. Sebagian perangko bahkan telah bernilai lebih tinggi daripada lukisan," paparnya.

Tak heran, di pameran kali ini pihaknya menyandingkan vintage stamps dengan koleksi lukis kontemporer, antara lain karya Di Lifeng, Song Yonghong, S Priadi, Dadan Setiawan, Andi Mieswandi, dan Aan Arif Rahmanto. Seperti juga pameran sebelumnya, ada misi yang ingin disampaikan kepada masyarakat seni.

Sebagai pemilik galeri dan kolektor seni, Rahmat sengaja mengangkat tema di atas untuk mengangkat realitas di masyarakat seni tanah air. Dia menilai, banyak kolektor dan seniman yang terjebak dengan istilah kontemporer.

Hemat dia, dewasa ini banyak karya seni kontemporer yang sekedar mengangkat realitas kekinian, tanpa memiliki konsep yang sejalan dengan eksekusi pada medianya. Padahal sejatinya, seniman kontemporer itu harus memiliki jiwa pemikir serta berkonsep masa depan. Harus berpikir futuristik namun tetap realistis membumi.

Bagi Rahmat, sejogjanya karya seniman itu tidak boleh terbelenggu oleh zaman. Justru, sambungnya, harus melampaui zaman saat dia berkarya.

Sebab itu, dia melihat perangko sebagai karya seni yang sudah membuktikan mampu melampaui zaman saat pembuatan. Rahmat berharap, melalui event ke-44 ini, galeri tidak hanya berfungsi sekedar art dealer dan art shop, namun juga aktif menjalankan fungsi edukasi sekaligus sosialisasi bagi masyarakat seni.

Hadir dalam kesempatan itu, kolektor dan pecinta seni, Rohadi S Hartono. Ia mengaku merasa surprise dengan terobosan Galeri Apik yang baru kali ini ada dalam pameran seni menyandingkan koleksi karya seni lukis kontemporer dengan vintage stamps.

”Saya sangat mengapresiasi sekali. Senang dan bangga dengan yang dilakukan Galeri Apik. Saya sangat menghargai karya seni Indonesia,” ulasnya.

Kegiatan ini menurutnya, bisa mempertemukan pecinta seni lukis kontemporer dengan kolektor filateli. ”Aktivitas semacam Ini sekaligus membuktikan bahwa perangko adalah bagian dari seni cetak yang bernilai histori tinggi,” pungkasnya.

Pada pameran tersebut, Galeri Apik menampilkan perangko dalam negeri serta berbagai negara seperti Malaya (saat sebelum berpisah jadi Singapura dan Malaysia), Chekoslavia, Turki, Saudi Arabia, Jerman, Tunisia, Mesir, Belanda, Peru, Hong Kong, Italia, Argentina, Filipina, Meksiko, Thailand, Perancis, Belgia, Finlandia, Uni Soviet (USSR/CCCP), Jepang, Denmark, Amerika Serikat, Norwegia, Inggris, Australia, Singapura dan lain lain.

Selain itu, terdapat perangko sewaktu negara Filipina masih berupa kepulauan bagian dari Amerika Serikat. Ada juga perangko seri film Little House on the Prairie dengan bintang Laura Ingals terbitan USA yang pernah tayang di salah satu televisi di Tanah Air. Sedangkan perangko Indonesia terdapat terbitan tahun 1958. (Q-1)





 








 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya