Pengaruh Luar Lemahkan Keluarga Indonesia

Cornelius Eko Susanto
30/7/2015 00:00
Pengaruh Luar Lemahkan Keluarga Indonesia
()
KELUARGA-KELUARGA di Indonesia pada saat ini tengah mengalami transformasi dari model keluarga tradisional menuju ke arah keluarga modern ala barat. Perubahan itu dipicu oleh sedikitnya tiga pengaruh dari luar.

Pengaruh itu yakni perkembangan sosial, ekonomi dan budaya yang bertransformasi dari tradisional menjadi modern, meningkatnya tuntutan gaya hidup hedonisme di dalam keluarga, serta semakin banyaknya keluarga yang terpisah dari jaringan sosial kekerabatan.

“Transformasi ini menyebabkan masalah dilematis pada keluarga Indonesia. Perubahan justru berdampak pada melemahnya ketahanan keluarga,” sebut Deputi Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga BKKBN, Sudibyo Alimoeso, di sela-sela acara pameran dan gelar dagang Harganas XXII, di Tanggerang, Banten, hari ini.

Transformasi, lanjut Sudibyo, menimbulkan munculnya fenomena baru yang tidak sehat pada keluarga Indonesia yang belum siap mengalami perubahan. Fenomena negatif itu berupa semakin meningkatnya angka perceraian, bertambahnya angka hidup bersama di luar nikah, serta menurunnya keinginan keluarga untuk memiliki anak.

Selain itu, perkembangan jaman juga membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi keluarga Indonesia. Jauhnya jarak tempat kerja, kemacetan, kriminalitas dan konflik sosial budaya ikut memberikan efek negatif pada psikologis anggota keluarga.

Sudibyo menambahkan, saat ini rata-rata perceraian di Indonesia mencapai 738 kasus setiap hari. Dari rata-rata itu, sebanyak 70% penggugat adalah perempuan, dengan mayoritas penyebab adalah kekerasan domestik dalam rumah tangga.

Tingginya angka perceraian menyebabkan jumlah kepala keluarga perempuan menjadi tinggi. Saat ini, sambung Surya, dari 67,6 juta kepala keluarga di Indonesia, 7,9 juta di antaranya adalah perempuan (single parent). Jumlah itu merupakan 11,6% dari total keluarga di negara kita.

Selain masalah perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga, faktor ekonomi juga menyebabkan ketahanan keluarga kita menjadi tergerus. Pasalnya, sebanyak 42% dari total kepala keluarga di Indonesia ada dalam golongan keluarga prasejahtera. Selain itu, sebanyak 20%-nya tidak memiliki rumah dan 11% kepala keluarga tidak memiliki pekerjaan.

Melemahnya ketahanan keluarga akhirnya bermuara pada degradasi moral anak bangsa. Saat ini semakin banyak remaja yang terpengaruh NAPZA, pergaulan bebas dan terkena HIV/AIDS.

Sementara itu, Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty, berkomentar rusaknya keluarga yang berdampak pada melemahnya kualitas anak dapat mengancam ketahanan bangsa. Pasalnya, anak-anak adalah calon penerus masa depan bangsa.

Ke depan, kata Surya, salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan keluarga adalah dengan menekan tingkat perkawinan dini yang masih tinggi.

“Sebagian besar perceraian terjadi pada pasangan yang menikah muda. Pernikahan dini juga tidak baik bagi kesehatan,” ujar Surya.

Cara lain untuk meningkatkan ketahanan keluarga adalah dengan kebijakan mewajibkan pasangan yang akan menikah untuk mengikuti pembekalan pernikahan terlebih dahulu. Dengan demikian, mereka bakal lebih siap dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak.(Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya