CHIEF Executive Officer (CEO) PT Ajinomoto Indonesia Grup Kaoru Kurashima berbagai pengalaman strategi bisnis kepada para mahasiswa Universitas Budi Luhur (UBL) dalam rangkaian Japanese Seminar Series yang digelar awal Juli lalu, di kampus UBL. Di hadapan sekitar 200 mahasiswa UBL, orang nomor satu di Ajinomoto Group itu menyampaikan bahwa kunci suksesnya terletak pada penelitian lapangan atau consumer insihgt. ''Bagian pengembangan produk harus belajar tentang bagaimana orang Indonesia memasak dan bumbu apa saja yang digunakan. Dengan demikian, perusahaan dapat memproduksi bumbu yang dapat diterima oleh lidah orang Indonesia,'' terang Kurashima melalui keterangan pers yang diterima, pada Selasa (7/7). Menurut Kurashima, dibandingkan dengan konsumen negara lain, konsumen Indonesia memiliki lidah yang cerdas. Dari uji coba rasa makanan yang dilakukan, orang Indonesia sangat bisa membedakan mana masakan berbumbu dari bahan artifisial dan mana yang berasal dari bahan alam asli. ''Karena itu, Ajinomoto membuat bumbu-bumbu dari bahan asli. Bila tidak, konsumen Indonesia tidak akan membeli,'' tutur Kurashima, yang menyebutkan bahwa produk Ajinomoto yang beredar di Jepang adalah yang buatan pabrik Indonesia. Terbukti, Ajinomoto yang hadir pada 1969 sebagai perusahaan Jepang pertama yang masuk ke Indonesia, dengan pabrik di Mojokerto, kini sukses di Tanah Air. Itu bisa dilihat dari angka penjualan yang diraih Ajinomoto pada tahun lalu yaitu, tembus hingga Rp4,7 triliun. Angka penjualan tersebut dicetak dari sejumlah merek yang berada pada payung Ajinomoto Group, yaitu Ajinomoto, Masako, Sajiku, Saori, dan Mayumi. Produk Ajinomoto Indonesia selain menyasar Jepang dan Indonesia sampai saat ini juga diekspor ke Singapura, Filipina, Australia, New Zealand, Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, Vietnam, Srilanka, Malaysia, Pakistan, Bangladesh, Arab Saudi, dan beberapa negara lain. ''Keuntungan lain dari adanya pabrik di Indonesia adalah bahwa dengan mendapatkan sertifikasi halal, produk-produk Ajinomoto Indonesia dapat diekspor ke negara-negara Islam,'' tutup Kurashima. Sementara itu, Ketua Panitia Japanese Seminar Series UBL Liza Dwi Ratna Dewi berharap dari tips-tips yang dibagikan para praktisi bisnis ke dalam kampus melalui seminar, bisa memberikan motivasi kepada para mahasiswa untuk siap bersaing ke dunia kerja dan dunia bisnis agar tak tertinggal dengan lulusan perguruan tinggi lainnya. (H-2)