Pabrik Garmen untuk Penyandang Disabilitas segera Dibangun
Puput Mutiara
03/7/2015 00:00
(ANTARA/Aditya Pradana Putra)
Kementerian Sosial (Kemensos) terus melakukan pemberdayaan terhadap penyandang disabilitas. Salah satunya, melalui rencana pembangunan pabrik garmen bagi tuna rungu agar mereka bisa bekerja dan mendapatkan penghidupan yang layak.
Direktur Rehabilitasi Sosial Orang dengan Kecacatan Kemensos Nahar menjelaskan bahwa hal itu merupakan komitmen pemerintah untuk berjuang meningkatkan kapasitas disabilitas khususnya di bidang keternagakerjaan.
"Ada arahan langsung dari Presiden yang kemudian ditindaklanjuti oleh Menteri (Mensos). Kemarin, kita sudah melakukan silaturahmi dengan 1.000 tuna rungu di Jakarta Timur," ujarnya saat dihubungi Media Indonesia, Jumat (3/7).
Dari hasil pertemuan itu, sambung dia, muncul inisiasi untuk segera merealisasikan rencana pengadaan pabrik garmen. Sebagai langkah awal akan disiapkan lebih dulu dari sisi sumber daya manusia (SDM).
Hal itu menjadi penting, sebab, mulai dari manajerial sampai operasional pabrik akan dikelola sendiri oleh para tuna rungu. Sesuai harapan Presiden agar penyandang disabilitas bisa mandiri.
"Sebetulnya bukan hanya tuna rungu, kami inginnya penyandang disabilitas lain pun bisa dilibatkan. Tapi yang jelas, disini kita akan melakukan penguatan terhadap calon tenaga kerjanya dulu," tutur dia.
Dijelaskan, tahun ini lebih terfokus pada persiapan manajerial. Untuk itu, penyandang disabilitas akan melakukan semacam magang di perusahaan.
Terkait hal tersebut, Kemensos merasa perlu menggandeng perusahaan yang bisa memberi kesempatan dan ruang bagi para tuna rungu untuk belajar. Harapannya, ke depan mereka mampu menjalankan roda perusahaan secara tepat.
Ia mengungkapkan, bahwa saat ini sudah ada perusahaan Jerman di Solo yang siap menampung mereka. Pun, pihaknya juga tengah mengupayakan agar penderita tuna rungu bisa magang di perusahaan di Jakarta.
"Kita anggap tahun ini sebagai tahun konsolidasi. Artinya, untuk menerjemahkan perlu ada kerja sama dengan semua pihak termasuk kementerian-kementerian terkait," tandasnya.
Lintas Sektoral
Lebih lanjut, audiensi kemudian dilakukan bersama dengan kementerian lain seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Ketenagakerjaan. Tujuannya yakni membahas hal-hal berbau teknis, kesiapan lahan, operasional, dan lain sebagainya.
"Ada tiga variabel yang sangat berpengaruh tentang disabilitas, yaitu masalah kekurangan fisik, lingkungan yang seharusnya bebas hambatan, dan yang tidak kalah penting adalah sikap," ungkapnya.
Menurut Nahar, sikap itu terdiri dari sikap pribadi penyandang disabilitas, kepedulian masyarakat, dan juga pemerintah. Apabila satu elemen saja ada yang cuek, misalnya pemerintah, maka tidak akan ada program seperti itu.
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyampaikan sebelumnya, bahwa Kemensos diminta menyediakan anggaran sebesar Rp20 miliar untuk realisasi pabrik garmen bagi tuna rungu tersebut. Namun sebagai bukti keberpihakannya pada nasih penyandang disabilitas, dibagikan pula sebanyak 1.000 alat bantu dengar untuk mereka.
"Presiden Jokowi yakin jika diberi kesematan dan ruang untuk berekspresi dipastikan mereka mampu melakukan pekerjaan di pabrik dengan baik, tidak kalah dengan pabrik reguler pada umumnya," tukas dia.(Q-1)