Ibarat buah simalakama, asupan kadar gula bagi seorang penderita diabetes (diabetisi) tidak boleh berlebih, pun jangan sampai kekurangan. Namun faktanya, hal itu kerap menimbulkan kekhawatiran terutama di saat bulan suci ramadan.
Dokter Muda Oktavianus Gilbert Talimpong mengatakan, bahwa para diabetisi bisa tetap menjalankan ibadah puasa asalkan kadar gulanya terkontrol. Perlu diketahui, kadar gula normal yaitu berkisar antara 70-110 mg/dl.
"Seseorang menderita diabetes apabila kadar gulanya lebih dari itu, biasanya mencapai >200 mg/dl. Itu terjadi salah satunya karena asupan makanan yang tidak seimbang, khususnya gula berlebih," ujarnya saat memberikan penyuluhan diabetes dan puasa ramadan di Depok, Jawa Barat, Sabtu (27/6).
Sehingga, jelas Gilbert, untuk mengendalikan diabetes atau kadar gula saat berpuasa yaitu dengan mengatur 3J (jumlah, jenis, jadwal). Pertama-tama, untuk mengetahui kebutuhan jumlah kalori seimbang maka harus dihitung lebih dulu dari indeks masa tubuh (tinggi badan, berat badan, jenis aktivitas, dan usia).
Namun persoalannya, saat berpuasa sulit untuk memenuhi kebutuhan kalori tersebut. Padahal menurutnya, para diabetisi diharuskan memenuhi semua kebutuhan kalorinya dengan alasan apapun.
"Perlu dipahami, kebutuhan kalori penderita diabetes saat berpuasa itu sama aja dengan normalnya sehari-hari. Jadi harus benar-benar diperhatikan pola makannya," kata dia.
Sarjana Kedokteran Universitas Pembangunan Negeri (UPN) Veteran Jakarta itu menganjurkan, pola pemenuhan kebutuhan kalori diabetisi yaitu pada saat sahur (40%), buka puasa (50%), dan sesudah tarawih (10%).
Adapun komposisi yang tepat, sahur dengan makanan utama (40%), buka puasa dengan camilan atau buah (10%), setelah salat magrib menyantap makanan utama (40%), dan sekitar pukul 21.00-22.00 WIB konsumsi camilan (10%).
"Dengan cara membenahi pola 3J itu diabetisi bisa berpuasa dengan aman. Tapi yang perlu dicatat, puasa tidak dianjurkan untuk diabetisi yang memerlukan suntikan insulin lebih dari dua kali," tegasnya.
Insulin merupakan sebuah hormon polipeptida yang mengatur metabolisme karbohidrat. Di dalam tubuh, sumber karbohidrat inilah yang diubah menjadi gula untuk menghasilkan energi.
Pada orang normal yang tidak menderita diabetes, karbohidrat yang diolah menjadi gula akan masuk melalui pembuluh darah ke hati. Akan tetapi, pada diabetisi telah terjadi kerusakan insulin yang mengakibatkan gula tidak bisa masuk ke dalam darah untuk diubah menjadi energi.
Walhasil, kadar gula meningkat kemudian tersimpan di dalam sel-sel lemak dan otot sebagai kadar gula cadangan. Jika kadar gula sudah melebihi batas biasanya akan timbul gejala seperti sering buang air kecil, mengantuk, serta sering lapar dan haus.
"Untuk mengaktifkan kembali fungsi insulin, diabetisi dianjurkan olahraga 30 menit sampai 1 jam setiap pagi dan sore. Tapi saat puasa, dikurangi setengah dari aktivitas biasanya," tukas Gilbert.
Dosis Obat
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa konsumsi obat juga perlu diperhatikan. Seperti misalnya, untuk pengonsumsi obat Sulfonilurea. Obat yang biasa diminum 1x pagi hari, bisa diminum saat berbuka puasa.
Sedangkan, kalau di hari biasa 2x sehari maka diminum saat berbuka dan sahur. Namun demikian, dosisnya perlu dikurangi 1/3 dan tentunya atas anjuran dokter yang menangani pasien tersebut.
"Yang terpenting, setelah obat diminum harus langsung makan. Karena mekanismenya, obat itu sebagai insulin untuk membantu si gula cepat masuk dalam darah," tandasnya.
Gilbert juga menghimbau kepada para diabetisi, agar waspada terhadap gejala hipoglikemia seperti sakit kepala, gemetar, keringatan, lelah, lemas, dan lapar. Pasalnya, itu bisa saja terjadi karena berpuasa seharian menjadikan kadar gula berkurang sehingga kekurangan energi.
Penanganannya, jelas dia, yaitu dengan menyegerakan berbuka jika sudah ada tanda-tanda hipoglikemia. "Makan atau minum yang manis. Bisa disiasati dengan makan permen atau gula pasir agar cepat dicerna. Sampai gejala hilang, jangan minum obat dulu," tandasnya.
Akan tetapi, menurut Kepala Puskesmas Beji Tiur Febrina Pohan yang lebih penting adalah mencegah masyarakat agar tidak terkena penyakit diabetes. Karenanya, upaya promotif preventif harus terus digencarkan.
Di Puskesmas Beji, sejak Januari sampai Mei 2015, diabetes menduduki urutan enam tertinggi diantara 10 penyakit dengan jumlah kunjungan terbanyak. Bahkan, jumlah terbanyak nomor dua setelah hipertensi kategori penyakit tidak menular.
"Setiap tahunnya selalu masuk di peringkat 10 teratas, tapi memang untuk peringkat selalu fluktuatif. Tahun ini sampai bulan Mei, jumlahnya mencapai 376 kunjungan pasien diabetes," tuturnya.
Ia menegaskan, bahwa kepedulian masyarakat dan seluruh elemen sangat diperlukan untuk mendukung upaya tersebut. Seperti penyuluhan yang dilakukan oleh para dokter muda Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta kepada para diabetisi yang tergabung dalam Persatuan Diabetes Indonesia (Persadi) di Puskesmas Beji, Depok. (Q-1)