BERBAGAI cara sudah dilakukan oleh Ike Cahyanti,27, agar sang buah hati mau mengonsumsi sayur dan buah. Namun sayangnya, si kecil Zahida Qalbi Nadhifa, yang kini menginjak usia 2,5 tahun, tak kunjung menyukai sumber makanan kaya akan serat itu.
"Saya coba kasih dia makan pakai sayur, tapi ngga suka. Awalnya saya juga bingung kenapa bisa begitu. Tapi kalau buah, pelan-pelan dia mulai suka meskipun agak lama ngebujuknya," kata perempuan yang berdomisili di Tangerang, Banten itu.
Ike mengaku putri semata wayangnya tidak terbiasa makan sayur dan buah. Bahkan, diberikan paparan rasa sayur dan buah pada makanannya saat bayi pun tidak. Semula, jelas Ike, ia tidak tahu kalau pembentukan pola makan sehat sejak dini dengan mengonsumsi sayur dan buah akan berpengaruh pada perilaku konsumsinya hingga dewasa.
"Dulu Dhifa kalau dikasih makanan selain ASI itu paling biskuit. Sekarang dia jadi susah kalau dikasih makan sayur," ucap dia.
Padahal, memperkenalkan sayur dan buah secara bertahap dan teratur pada anak akan membentuk preferensi terhadap sayur dan buah yang akan mereka bawa sampai usia dewasa.
Guru Besar di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Prof. Dr. Agus Firmansyah, SpA(K) mengatakan, bahwa 1.000 hari pertama kelahiran (1.000 HPK) merupakan periode emas tumbuh kembang anak. Karenanya, di masa ini sangat penting perkenalan anak pada makanan bergizi tinggi tersebut.
"Seorang anak bisa mengalami neophobia atau ketakutan untuk mencoba makanan baru semenjak usia 18 bulan. Hal itu dapat menyebabkan anak menjadi picky eater," jelasnya saat diskusi Nutritalk dengan tema 'Pembentukan Pola Makan Sehat Sejak Usia Dini' di Jakarta, Senin (15/6).
Meski begitu, kata Agus, tak dipungkiri masalah seperti Dhifa yang tidak suka mengonsumsi sayur dan buah bukanlah satu-satunya pada anak. Bahkan ironisnya, dari hasil Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2013 menyebutkan, rerata nasional perilaku konsumsi kurang sayur dan atau buah penduduk usia 10 tahun ke atas sebesar 93,5%. Artinya, hanya 6,5% masyarakat Indonesia yang sudah cukup mengonsumsi sayur dan buah.
Agus menjelaskan, fakta kurang konsumsi yang merata pada anak-anak maupun orang dewasa di Indonesia menunjuk kepada kebiasaan kurang konsumsi yang dimulai sejak dini.
"Coba kita lihat dari penelitian di berbagai negara Eropa seperti Inggris, Belanda, dan Polandia. Anak yang sudah dibentuk kesukaannya terhadap sayur dan buah pada usia dini, akan terbangun kebiasaan makan sehat di usia selanjutnya," ungkap dia.
Padahal menurutnya, semenjak usia satu tahun anak mulai dapat mengonsumsi makanan keluarga. Pada tahapan ini, interaksi yang terbentuk antara ibu dan anak berperan penting dalam pembentukan pola makan sayur dan buah yang sehat untuk masa yang akan datang.
Penuhi Kebutuhan Serat Lebih lanjut, asupan sayur dan buah dapat memberikan manfaat kesehatan pencernaan yang memadai untuk anak. Terutama, demi meningkatkan daya serap nutrisi terutama serat dan fungsi kekebalan tubuh terhadap penyakit di masa yang akan datang.
Jika dilihat dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2013, kebutuhan akan serat semakin meningkat dari usia ke usia. Pada usia 7-11 bulan, anak membutuhkan asupan 10 gram serat perhari. Semakin bertambah usia, yakni kisaran 16-18 tahun, kebutuhan serat remaja perempuan (30 gram/hari) dan laki-laki (37 gram/hari).
"Kecukupan serat yang semakin meningkat ini bisa dipenuhi jika anak-anak dan remaja terbiasa mengonsumsi buah dan sayur sejak usia dini," tegas Agus.
Ia menuturkan, konsumsi sayur dan buah akan membantu pemenuhan serat, vitamin, dan mineral lebih tingi pada anak untuk kesehatan saluran cerna dan imunitas yang lebih baik. Sehingga, tumbuh kembang anak dapat optimal. "Bukan itu saja, hal itu juga menurunkan risiko terkena berbagai penyakit seperti peradangan, alergi, diare, jantung, kanker, dan darah tinggi pada usia dewasa," tandasnya.
Di Indonesia, melalui Jurnal Gizi dan Pangan (Maret 2004), terungkap bahwa anak Indonesia hanya mengonsumsi setengah dari porsi serat yang dianjurkan. Sementara itu, konsumsi serat anak di kota lebih rendah ketimbang di pedesaan.
Hal ini sesuai dengan catatan World Health Organization (WHO) yang memperlihatkan, orang Indonesia mengonsumsi sayur dan buah hanya sebanyak 2,5 porsi perhari atau 34,55 kg pertahun. Jumlah itu jauh di bawah anjuran Food Agriculture organization (FAO) untuk konsumsi buah perkapita pertahun sebanyak 73 kg.
"Rata-rata orang Indonesia dalam seminggu makan sayur lima kali, sedangkan konsumsi buah hanya dua kali seminggu," tukas dia.
Dengan demikian, Agus menganjurkan perlunya mempopulerkan sayuran dan buah khususnya bagi anak dan remaja. Pasalnya, dewasa ini sayuran masih dianggap sebagai salah satu jenis makanan yang paling tidak populer seperti hasil sebuah penelitian di Warsaw University of Life Sciences, Polandia, 2013.
Manfaat Lain Ia menambahkan, bahwa sejatinya sayur dan buah termasuk makanan sumber serat. Diantaranya, pisang, pepaya, bayam, dan wortel yang banyak dan mudah dijumpai di Tanah Air.
"Di samping mengandung serat, sayuran dan buah-buahan itu juga mengandung prebiotik, vitamin, dan mineral yang mendukung perkembangan anak," imbuhnya.
Bila mengonsumsi makanan mengandung prebiotik, jelas Agus, bisa menimbulkan efek positif bagi tubuh. Salah satunya, memenuhi kebutuhan akan prebiotik dan serat itu sendiri sebanyak 70% bagi tubuh.
"Kalau balita misalnya, minum susu terus tapi tidak mengonsumsi sayur atau buah yang mengandung serat maka ia akan mengalami kesulitan buang air besar (BAB). Dampaknya, bisa berkepanjangan yakni BAB yang sampai mengeluarkan darah," tukas dia. (Q-1)