Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PADUAN suara kini kian populer. Mulai anak-anak hingga orang dewasa turut bersenandung bersama. Penampilan paduan suara asal Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata.
Hampir setiap tahun Indonesia menyabet penghargaan tingkat internasional, yang menempatkannya sejajar dengan Eropa. Perpaduan lagu daerah, aransemen yang apik, dan koreografi yang atraktif menjadi ramuan yang menarik perhatian juri.
Paduan suara dari sekolah musik The Resonanz yang dipimpin konduktor Avip Priatna berhasil menyabet berbagai prestasi internasional. Pada Juli 2016 The Resonanz Children’s Choir (TRCC) bersama konduktor Devi Fransisca meraih juara pertama untuk kategori Children’s and Youth Choir di Claudio Monteverdi International Choral Festival and Competition, Venesia, Italia.
Di kategori dewasa, Avip memimpin langsung Batavia Madrigal Singer (BMS) yang berhasil menunjukkan tajinya di kompetisi paduan suara internasional 48th Tolosa Choral Contest, Spanyol. Di kompetisi yang berlangsung 28 Oktober-1 November 2016 itu, mereka menyabet juara pertama kategori Polyphony dan juara pertama kategori Basque Songs & Popular Music/Folklore. Alhasil mereka maju ke final European Grand Prix for Choral Singing tahun depan.
Bersama
Masyarakat yang mulai menikmati paduan suara 10-15 tahun terakhir mengalami peningkatan. “Kesan paduan suara waktu saya mahasiswa sekitar 25 tahun lalu adalah kelompok musik yang hanya membawakan lagu-lagu nasional atau agama tertentu, jadi segmented sekali,” kisah Avip saat berbincang dengan Kotak Musik Media Indonesia, di Jakarta, November lalu.
Untuk mengubah paradigma itu, Avip dan paduan suara mahasiswa di Universitas Parahyangan, Bandung, Jawa Barat, rutin mengadakan konser yang menyelipkan lagu-lagu populer di repertoarnya. Guna memberikan kesan lebih fleksibel dan tidak serius.
“Mahasiswa dulu kalau bikin konser yang nonton keluarga dan teman-temannya. Jadi, mulai banyak yang datang dan mengenal musik paduan suara. Di sisi lain orang-orang Indonesia suka bersosialisasi, di kelompok paduan suara, banyak teman dan bisa berinteraksi,” papar Avip.
Mempelajari vokal, lanjut Avip, relatif lebih singkat daripada belajar instrumen. “Ketika kita dengar orang bernyanyi kita bisa langsung mengikuti mereka bernyanyi. Penyerapannya lebih mudah,” sambungnya.
“Ditambah kalau bertanding di luar negeri. Ada pelajaran tambahan yang didapat juga, bagaimana memilih lagu di kompetisi, cara bermusik dengan baik. Dapat bonus jalan-jalan keluar negeri bersama. Hal ini membuat orang-orang termotivasi untuk ikut paduan suara,” jelas Avip.
Kini upaya Avip berbuah manis, frekuensi dan jumlah penggemar meningkat. Akhir 2008, The Resonanz kerap mengadakan konser secara rutin. Dari kapasitas sekitar 300 orang, tahun ini tembus 1.200 orang dan tiket selalu terjual habis.
“Ini salah satu indikasi musik paduan suara semakin diminati. Saya rasa juga pengaruh informasi, kita bisa mendengarkan beragam paduan suara di seluruh dunia lewat Youtube. Di masa saya, untuk mendapatkan partitur lagu dan CD paduan suara susah. Sekarang pesan partitur bisa daring,” jelas Avip.
Komposisi
Peran serta arranger muda dalam mengomposisi musik paduan suara membuat eksplorasi tak terbatas. Semua tidak terlepas dari logika musik vokal. Misalnya beragam jenis bahasa hingga menirukan instrumen atau bunyi-bunyian alam seperti angin dan binatang.
“Kalau kita lihat di beberapa perkembangan komposisi musik paduan suara, jadi zaman dulu sudah dibuat 2-40 suara, dalam perkembangannya, ketika paduan suara dekat dengan lagu-lagu daerah, ternyata di setiap daerah selalu ada yang namanya upacara berkaitan dengan tarian. Hal itu berpotensi untuk diangkat juga. Sekarang hampir semua melakukan itu. Bahkan tidak hanya lagu daerah, hampir semua lagu Indonesia yang dasarnya dari klasik pun bisa diperkuat dengan koreografi. Koreografi menjadi penguat musiknya,” papar Avip.
Namun Avip mengingatkan paduan suara masih erat dengan musik klasik. Sehingga arranger dan vokalis harus mempelajari musik klasik dengan baik. “Bagi saya kalau menguasai musik klasik harus mempelajari sesuatu dengan benar prosesnya. Musik paduan suara klasik akan indah kalau secara teknik dikuasai dengan baik. Tidak bisa dengan hanya mendengar, musik klasik itu harus belajar, beda dengan musik pop. Kepekaan jadi lebih terasah karena reportoar klasik banyak sekali di dalam musik paduan suara,” jelasnya.
Hari ini, musisi klasik pun berusaha lebih dekat dengan penonton. Setelah menguasai klasik, eksplorasi untuk berkreasi bisa dilakukan tanpa batas. “Bahkan musik paduan suara klasik di negara Barat sendiri juga sudah mulai luluh, mereka mencari cara agar disukai generasi muda, berbalik dengan kondisi di Indonesia yang sedang antusias. Mereka harus atraktif, kalau tidak akan ditinggalkan,” saran Avip.
Saksikan video wawancara dan penampilan paduan suara dari The Resonanz di aplikasi Media Indonesia yang dapat diunduh di Google Play dan Appstore sekarang juga. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved