Kartika Jahja Melawan Kekerasan Seksual

Indriyani Astuti
28/11/2016 06:41
Kartika Jahja Melawan Kekerasan Seksual
(MI/Adam Dwi)

PENYANYI Kartika Jahja, 35, turut berpartisipasi dalam kampanye 16 Hari Antikekerasan terhadap Perempuan yang digagas sejumlah pihak, antara lain Komnas Perempuan, UNFPA, dan UN Women.

Ia tampil sebagai salah satu pembicara dalam acara bertajuk Telling Untold Stories di Jakarta, kemarin, yang menjadi pembuka dari rangkaian kampanye itu.

Dalam acara tersebut, perempuan yang sejak 2013 aktif menyuarakan kesetaraan gender dan antikekerasan seksual terhadap perempuan lewat gerakan internasional One Billion Rising itu mengungkapkan dirinya merupakan penyintas kekerasan seksual.

Ia mengisahkan pengalaman pahit itu dialaminya di usia 6 tahun.

Saat itu ia hanya bisa diam.

Ia menutup rapat-rapat cerita kelam itu selama 26 tahun.

"Ketika saya mengalami kekerasan seksual di umur yang masih muda, saya merasa tidak ada yang bisa diajak bicara. Selama bertahun-tahun saya merasa yang terjadi kepada saya itu kesalahan saya, bahwa sebagai perempuan harusnya saya bisa melawan dan kalau misalnya saya bisa lebih maco. Maka, hal itu tidak akan terjadi pada saya. Itu yang saya percaya," tutur perempuan yang akrab disapa Tika itu.

Sejak kejadian itu, dia tumbuh menjadi remaja yang tomboi.

Ia meyakini, dengan begitu, tidak akan ada laki-laki yang berani macam-macam dengannya.

Sampai pada akhirnya dirinya sadar bahwa upaya tersebut tidak menjadikannya terbebas dari kekerasan seksual.

Terbukti, di usia menginjak 19 tahun, pengalaman buruk di masa kecil itu nyaris terulang.

Namun, ia bersyukur pada akhirnya bisa bangkit menjadi pribadi yang lebih kuat.

Bahkan, pada 2013, Tika berani membuka diri kepada publik bahwa dirinya penyintas kekerasan seksual.

"Ternyata ketika terbuka, kita seperti menyalakan lampu bagi orang-orang yang ingin bicara tapi tidak bisa, merasa sendirian, dan merasa ketakutan selama bertahun-tahun. Mereka bisa melihat seseorang yang berdiri mengatakan 'saya pernah mengalami dan mendapat trauma tapi saya berjuang dan saya baik-baik saja'," papar vokalis grup musik independen Tika and The Dissidents itu.

Saling menguatkan

Semenjak itu, lanjutnya, ia kerap menjadi tempat 'curhat' para perempuan yang bernasib sama.

Ketika sedang manggung atau mengisi acara, ia ditemui perempuan korban kekerasan seksual.

Mereka mengajaknya berbicara, berbagi kisah pilu untuk kemudian saling menguatkan.

"Sampai sekarang, ke mana pun saya pergi, saya masih sering bertemu mereka yang mengalami kekerasan seksual," imbuhnya.

Akhirnya, Tika berinisiatif mendirikan dan mengelola yayasan bernama Bersama Project, sebuah yayasan yang menggunakan media musik, seni, dan kultur pop untuk menyuarakan kesetaraan gender dan antikekerasan seksual terhadap perempuan.

Ia juga aktif menjalani berbagai kampanye dan edukasi publik.

"Saya juga mengajak teman-teman musik lainnya yang peduli dengan isu ini untuk menggunakan mikrofonnya. Kita bisa jadi contoh yang baik untuk para fan," seru penyanyi yang juga berakting di sejumlah film dan teater itu.

Saat ini perempuan yang namanya masuk dalam daftar BBC 100 Women 2016 itu juga tengah disibukkan dengan kampanye #Tubuhkuotoritasku yang membawa pesan kesetaraan gender.

Lewat kampanye yang dibuat dalam bentuk lagu beserta videoklip itu, ia mengajak perempuan untuk memahami tubuhnya sendiri dalam usaha mencegah kekerasan pada perempuan.

(Nanda Iffa/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya