Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
IBARAT dua sisi mata uang, perkembangan teknologi digital di Tanah Air bisa berdampak positif atau negatif. Sayangnya, berbagai kemudahan akses melalui media internet justru menjadikan industri musik seakan mandul.
Konsultan Bisnis Musik dan Manager Believe Digital Aldo Sianturi mengatakan bahwa hal itu terjadi karena industri musik tidak pernah dibedah. Meski hanya untuk sekadar mengetahui dan menganalisis potensi serta kekuatan yang dimiliki.
"Kalau ringback tone (RBT) naik misalnya, itu karena ada industri telekomunikasi. Lalu Joey Alexander itu dikenal lewat Youtube, bukan dari label yang powerful," ujarnya dalam Diskusi Kotak Musik Media Indonesia bertajuk 'Saatnya Kebebasan Berkarya dan Mendengar (?) dalam rangka menyambut Hari Musik Nasional di Jakarta, Rabu (2/3).
Itu artinya, menurut Aldo, perubahan zaman tidak bisa dipungkiri. Konten musik saat ini bisa dengan mudah diakses atau disebarluaskan lewat digitalisasi bahkan oleh siapapun. Sekalipun pada kenyataannya menimbulkan kesan kebablasan.
Melihat kondisi demikian, ia pun menilai penting untuk menyisipkan pengetahuan musik di masa lalu kepada generasi masa kini atau yang disebut digital native. Tujuannya agar mereka bisa lebih menghargai musik.
"Di Indonesia ini belum ada wisdom yang menjadi acuan. Tapi ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu kualitas dan tujuan mem-publish konten," ucapnya.
Di kesempatan yang sama, David Karto, pendiri Demajors Independen Music Industry berpendapat bahwa dewasa ini para musisi terlena dengan euphoria. Sehingga musik yang dihasilkan menjadi prematur.
"Itu yang terjadi hari ini, tidak semua musisi paham digital. Karena memang di Indonesia sendiri digital itu barang baru, kalau di Eropa dan Amerika itu sesuatu yang sudah melekat," tukas dia.
Terlepas dari itu, lanjutnya, musisi sejatinya memiliki ideologi dan rasanya masing-masing. Kebebasan bermusik tidak bisa dipaksakan, apalagi hanya untuk komersialisasi.
Di era digital yang terkesan anomali, Wendi Putranto, editor Rolling Stones menambahkan, perlu strategi untuk tetap menghidupkan industri musik maupun media pendukungnya. Salah satunya dengan melakukan revitalisasi.
"Cepat atau lambat kita bakal tergerus jika tidak bisa melakukan revitalisasi. Jadi harus paham pola untuk menguasainya, jangan melulu salahkan pembajakan akibat jatuhnya musik Indonesia," ungkap Wendi.
Pasalnya, sambung dia, mentalitas gratisan yang kebanyakan dimiliki bangsa ini justru yang harus diubah. Hanya keinginan dan tekad yang kuat yang bisa menyelamatkan industri musik dalam negeri. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved