Pupuk Indonesia Salurkan 8,9 Juta Ton Pupuk Subsidi

Andhika Prasetyo. andhika@mediaindonesia.com
06/1/2017 04:50
Pupuk Indonesia Salurkan 8,9 Juta Ton Pupuk Subsidi
(ANTARA/GILANG)

SEPANJANG 2016 PT Pupuk Indonesia menyalurkan 8,9 juta ton pupuk bersubsidi, mencapai 94% dari target alokasi yang dicanangkan Kementerian Pertanian untuk tahun anggaran 2016. Pupuk bersubsidi yang disalurkan itu terdiri atas pupuk urea 3,9 juta ton, pupuk NPK 2,5 juta ton, pupuk ZA 962 ribu ton, pupuk SP-36 836 ribu ton, dan pupuk organik 641 ribu ton. “Pada 2016, kami menjaga dan mengawal seluruh proses sehingga penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani dapat dipenuhi,” ujar Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat di Kementerian Pertanian di Jakarta, kemarin.

Bersama lima anak usaha, yakni PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Pupuk Kujang Cikampek, PT Petrokimia Gresik, dan PT Pupuk Iskandar Muda, Pupuk Indonesia menopang program ketahanan pangan melalui jaminan pasokan pupuk. “Dari sisi kami, efisiensi produksi akan terus kita gencarkan di segala bidang supaya industri pupuk Tanah Air dapat berkompetisi dengan pupuk produksi luar,” urainya.

Serapan yang cukup tinggi itu, imbuhnya, menjadi salah satu faktor tingginya produksi padi nasional. Berdasarkan praangka ramalan II Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi 2016 mencapai 79,14 juta ton gabah kering giling, naik 4,96% dari 2015 sebanyak 75,39 juta ton. Upaya meningkatkan serap­an pupuk subsidi itu akan diteruskan tahun ini. Berdasarkan Permentan 69/2016, alokasi pupuk bersubsidi 2017 mencapai 8,5 juta ton.

Alokasi itu terdiri atas komposisi pupuk urea 3,6 juta ton, pupuk SP-36 800 ribu ton, pupuk ZA 1 juta ton, pupuk NPK 2,1 juta ton, dan pupuk organik 895 ribu ton. “Hingga awal Januari, kami masih memiliki stok pupuk di lini 3 (kabupaten) mencapai 743 ribu ton. Jumlah itu di atas ketentuan stok minimum 638.448 ton,” terang Aas. Ia menyampaikan sangat mudah bagi para petani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut.

“Petani hanya perlu tergabung dalam kelompok tani dan mereka harus menyusun rencana definitif kelompok kerja (RDKK) sehingga bisa memperoleh alokasi pupuk bersubsidi,” terangnya. Sebagai produsen pupuk terbesar di Asia, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi total sebanyak 13,1 juta ton per tahun dengan total aset sebesar Rp93,13 triliun.

Bahan baku dari smelter
Di sisi lain, kehadiran pabrik pemurnian dan pengolahan mineral (smelter) yang akan dibangun PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur, bakal menopang produksi pupuk bersubsidi. “Karena hasil samping peng­olahan mineral, yaitu asam sulfat bermanfaat sebagai bahan baku pupuk NPK,” kata Direktur Utama PT Petrokimia Gresik Nugroho Christijanto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (5/1).

Untuk itu, imbuhnya, pihaknya mendukung rencana pembangunan smelter PTFI di kawasan industri PT Petrokimia Gresik dan siap menyerap asam sulfat hasil sampingan dari fasilitas penghiliran mineral itu. “Smelter PTFI, dengan kapasitas hasil samping asam sulfat sebesar dua juta ton per tahun di kawasan industri PG berpotensi dapat dioptimalkan dan diintegrasikan dengan smelter yang telah ada milik PT Smelting Indonesia,” urainya. Berdasarkan perjanjian sewa tanah antara PG dan PTFI pada Juni 2015, PG bertanggung jawab atas penyediaan lahan seluas 80 hektare untuk proyek smelter PTFI yang menelan investasi US$2,3 miliar. “Saat ini lahan tersebut telah tersedia, baik dari aspek teknis maupun legalitas,” tandasnya. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya