Nasib Nahas Naungi 3 Negara di 2016

Anastasia Arvirianty
02/1/2017 09:20
Nasib Nahas Naungi 3 Negara di 2016
(MI/Seno)

TAHUN monyet api 2016 yang diwarnai pergolakan politik dan ekonomi global banyak memberi pelajaran bagi para pemangku kebijakan. Setidaknya itu berlaku untuk pemimpin dari tiga negara yang selama ini menjadi bagian dari 10 penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar.

Seperti dikutip Cnnmoney.com, akhir pekan lalu, ketiga negara tersebut ialah Inggris, India, dan Italia. Dua referendum dan percobaan tekanan pada mata uang membuat ketiga negara itu mengalami ketidakpastian lebih besar dalam menghadapi 2017.

Guncangan pertama pada 2016 datang dari Inggris pada 23 Juni lalu, ketika mayoritas warga Inggris serentak menjatuhkan pilihan keluar dari Uni Eropa.

Peristiwa yang dikenal dengan Brexit ini serta-merta memberi dampak langsung, mengguncang bursa saham global. Dampak besar dirasakan mata uang Inggris. Pound sterling jatuh ke level terendah dalam lebih dari 30 tahun terhadap dolar dengan kehilangan 18% dari nilainya, mendorong kenaikan harga barang konsumsi, dan akan mempercepat inflasi pada 2017.

Ketidakpastian ekonomi Inggris pun membayang pascaputus dengan mitra dagang terbesar mereka (Uni Eropa) itu. Pun masih ditambah ancaman investor hengkang dari sana. Dengan Brexit, ekonomi bisa merosot ke laju paling lambat dalam tujuh tahun pada 2017.

Negara kedua ialah India seusai Perdana Menteri Narendra Modi mengumumkan 500 rupee lama dan 1.000 rupee tidak akan lagi berlaku dan akan diganti dengan yang baru, yakni 500 rupee cetakan baru dan nominal baru senilai 2.000 rupee.

Upaya untuk memerangi penggelapan pajak dan uang palsu itu diyakini menguntungkan India dalam jangka panjang. Kebijakan yang dirilis 8 November 2016 itu menyebabkan kekacauan bagi jutaan orang yang berjuang mendapatkan uang baru.

Bisnis pun terkulai akibat krisis uang tunai dan ekonomi India terjun bebas. Bank sentral (Reserve Bank of India) telah memangkas proyeksi pertumbuhan 2016 sebesar 0,5%. Namun, banyak analis mengatakan kerusakan bisa jauh lebih parah daripada itu.

Yang terakhir ialah Italia. Pada 4 Desember 2016, Perdana Menteri Matteo Renzi mencoba mengakhiri kebuntuan politik dan menghidupkan kembali ekonomi stagnan Italia. Pemerintah Italia telah dipaksa untuk masuk dengan bailout, dari dana penyelamatan US$21 miliar.

Itu menambah utang negara yang sudah US$2,34 triliun. Hal itu membuat perbankan Italia 'sakit kepala'. Meski begitu, analis mengatakan kemungkinan untuk terjadi referendum memang sangat tipis, tapi risiko politik untuk Eropa meningkat.(E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya