Pedagang Naikkan Harga Sepihak

Jessica Sihite
30/12/2016 03:20
Pedagang Naikkan Harga Sepihak
(MI/Bagus Suryo)

PEMERINTAH menyatakan naik turunnya harga cabai dan bawang merah kerap mendapat campur tangan pihak lain. Hal tersebut membuat harga kedua komoditas itu terus berfluktuasi tinggi meski pasokan dinilai cukup. Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar menilai penaikan harga pangan memang kerap dilakukan para pedagang, terlebih saat mendekati Lebaran, Natal, dan tahun baru.

"Memang pedagang melihat karena banyak permintaan saat hari raya, jadi dinaikan. Mau pasokan ada atau tidak, itu otomatis," ucap Hermanto saat dihubungi, Kamis (30/12). Menurutnya, pemerintah harus benar-benar memastikan pasokan cabai dan bawang merah memang mencukupi kebutuhan masyarakat menjelang hari raya. Jangan sampai saat permintaan mulai melonjak, antisipasi baru dilakukan.

Namun, dia meragukan data dari Kementerian Pertanian yang menilai pasokan cabai dan bawang merah selalu mencukupi, bahkan surplus. "Mungkin ada pasokan, tapi pasokan sedikit. Musim sekarang hujan terus. Jadi, jika dibandingkan dengan permintaan, relatif (pasokan) sedikit. Makanya harga naik," papar Hermanto. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, margin keuntungan pedagang besar untuk penjualan cabai rawit mencapai Rp7.744 per kilogram (kg).

Sementara itu, margin pedagang eceran mencapai Rp14.828 per kg. Untuk bawang merah, pedagang besar mengambil keuntungan Rp4.819 per kg dan pedagang eceran mencapai Rp10.704 per kg. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan menyatakan banyak faktor penentu harga pangan meski pendekatan teori ketersediaan dan permintaan tetap dijadikan sebagai acuan.

Namun, Oke mengakui pengendalian harga dari pemerintah di tingkat pedagang besar tidak berdampak besar terhadap penurunan harga cabai dan bawang merah. "Banyak sekali faktor yang menentukan harga. Pendekatan teoretis tetap dijadikan acuan, tetapi tidak bisa penanganannya berdampak secara instan. Pengendalian harga dari pedagang besar tetap saja bisa terjadi, tetapi tidak sepenuhnya besar," tutur Oke.

Karena itu, dia menilai pemerintah perlu bekerja sama dengan BUMN untuk meredam tindakan pedagang-pedagang besar dalam mengendalikan harga. Misalnya, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) menjual cabai dan bawang merah dari champion Kementerian Pertanian yang dibeli langsung dari petani. Dengan begitu, rantai pasokan tidak terlalu panjang dan harga bisa lebih murah.

Benahi pertanian
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai pemerintah harus membenahi sektor pertanian untuk memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi domestik. "Apabila sektor pertanian beres, setengah persoalan ekonomi Indonesia beres," ujar Eko di Jakarta, Kamis (30/12). Menurutnya, duduk persoalan sektor itu ialah sumber daya kurang memadai. Umumnya, para petani tidak dibekali dengan pengetahuan dan pendidikan yang mumpuni sehingga produktivitas terbatas.

Itu mendorong kemiskinan di desa kian memburuk, terutama sejak September 2016. Eko tidak menampik upaya pemerintah mengatasi hal itu dengan redistribusi anggaran melalui transfer daerah dan dana desa yang terus meningkat. Namun, sayangnya 39% dari dana yang terdistribusi itu malah dihabiskan untuk belanja pegawai, alih-alih investasi pertanian.
(Fat/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya