Presiden Ingin Indonesia Bergabung dengan TPP

Nyt/Fox/ Pol/Arv/Jes/Dro/X-4
28/10/2015 00:00
Presiden Ingin Indonesia Bergabung dengan TPP
Presiden AS Barack Obama berbincang dengan Presiden Joko Widodo di Gedung Putih, Washington DC, Senin (26/10).(SETPRES/LAILY RACHEV)

INDONESIA tertarik ikut dalam kemitraan perdagangan kawasan Pasifi k (Trans-Pacifi c Partnership/TPP). Ketertarikan tersebut diutarakan Presiden Joko Widodo kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Gedung Putih, Washington, kemarin. Keputusan Jokowi secara ti dak langsung mendorong per cepatan kemitraan TPP yang digagas AS bersama 11 ne gara lain.

Menurut Jokowi, kemitraan itu akan menye imbangkan perekonomian Tiongkok yang terus mencengkeram kawasan Pasifi k. TPP juga melibatkan sejumlah ne gara se perti Australia, Bru nei, Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Jika berjalan, kemitraan itu menjadi salah satu sistem per dagangan antarnegara ter besar yang pernah ada di Pa sifik. Indonesia memiliki per putaran ekonomi sekitar US$1 triliun setiap tahun.

"Indonesia negara de ngan per ekonomian terbuka. Dengan 250 juta penduduk, kita memiliki perekonomian terbesar di ASEAN," ka ta Jokowi. Seusai bertemu Obama, Jokowi bertemu dengan Kamar Dagang AS untuk menyepakati perjanjian bisnis senilai US$20,075 miliar.

Kesepakatan bisnis termasuk penjualan gas senilai US$13 mi liar antara Pertamina dan Corpus Christi Liquefaction, anak perusahaan Cheniere Ener gy, serta investasi US$1 mi liar oleh General Electric di sektor listrik, minyak dan gas, juga proyek kesehatan. Rencana Jokowi mengikutsertakan Indonesia dalam kemitraan TPP disambut baik oleh Kadin Indonesia. Menurut Wa kil Ketua Umum Kadin Shin ta W Kamdani, "TPP itu da pat membuka pasar bagi In donesia. Hanya, pemerintah harus serius meningkatkan da ya saing agar setara atau bah kan melebihi kompetitor. Bukan berarti masalah selesai jika sudah masuk TPP.

" Ekonom DBS Group Gundy Cah yadi mengingatkan peme rintah mempertimbangkan kembali hal tersebut. "In donesia sebagai anggota ASEAN sudah punya FTA dengan hampir semua anggota TPP, termasuk AS. Prosesnya rumit, apalagi tahun depan bakal ada pergantian presiden AS. Bukan tidak mungkin kebijakannya berubah.

" Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemenperin Har janto mengungkapkan pi haknya akan mengkaji kemung kinan bergabungnya In donesia dengan kemitraan di TPP tersebut. "Memang menguntungkan. Contohnya Fili pina. Mereka berani, kok kita tidak? Padahal, sektor industri kita jauh lebih maju.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya