SANG Pencipta seolah tak perhitungan saat menganugerahi Wakatobi dengan potensi wisata alam yang mampu mengundang decak kagum.
Namun, jangan terlena.
Keindahan alam pun tidak abadi bila tidak dijaga.
Wilayah di Sulawesi Tenggara itu dihuni ratusan ribu spesies terumbu karang.
Dari total 850 ribu spesies terumbu karang yang hidup di bumi ini, 70%-nya ada di perairan Timur, termasuk Wakatobi.
Ditambah dengan beragam jenis spesies ikan dan air lautnya yang bening bak cermin, Wakatobi telah menjadi magnet bagi penggemar olahraga menyelam.
Daya tarik Wakatobi dalam memikat pelancong disikapi pemerintah dengan memasukkannya ke dalam daftar kawasan pariwisata strategis yang berpotensi dijadikan kawasan ekonomi khusus (KEK).
"Soal roadmap menuju KEK, kementerian teknis yaitu Kementerian Pariwisata menyiapkan tidak hanya untuk Wakatobi, tapi 6 kawasan pariwisata strategis lainnya," papar Deputi IV Koordinasi SDM, Iptek dan Budaya Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman Safri Burhanuddin dalam Rembug Masyarakat Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Rabu (21/10).
Menurut Safri, pemerintah setempat tentu bangga mengetahui potensi wisata di daerahnya masuk daftar prioritas calon KEK.
Pasalnya, tidak seluruh daerah wisata mendapat keistimewaan itu.
Tentu saja perlu berbagai persiapan untuk mendulang predikat KEK mengingat ada sejumlah parameter yang perlu dipenuhi, mulai dari infrastruktur yang memadai, aksesibilitas, sampai manajemen.
Pengembangannya pun akan butuh dana tidak sedikit.
Pada tatanan ini, kata Safri, pemerintah daerah diberi peluang menyambut investor asing.
"Tapi, kita perlu sistem agar masyarakat terlibat, keuntungan buat masyarakat harus jelas. Jangan sampai mereka jadi penonton saja, ada tapi tidak dianggap."
Bicara soal Wakatobi memang tidak akan terlepas dari masyarakat penghuninya, suku Bajo.
Suku yang dikenal hidup nomaden di atas laut itu memandang laut ibarat saudara.
Tidak mengherankan masyarakat Bajo hidup sederhana, meski kekayaan laut di sekitar amat melimpah.
"Kami terbiasa hidup secukupnya," ujar Andi, salah satu warga suku Bajo asal Desa Mola dalam acara yang diprakarsai pemerintah dan Food Agriculture Organization (FAO) itu.
Menurutnya, suku Bajo menganut prinsip warisan leluhur, "kalau ada rezeki di laut, jangan dibawa semua ke darat."
Maka itu, mereka menolak dianggap miskin.
Selama ini, hal itu yang acap kali yang ditonjolkan media massa dan pemerintah terkait eksistensi suku Bajo.
Mereka jengah dengan anggapan itu.
"Bajo bukan masyarakat yang harus dikasihani," tutur Presiden Suku Bajo Indonesia Abdul Manan.
Ia menilai, dalam serangkaian program pemerintah, suku Bajo acap kali diposisikan sebagai objek.
Padahal dengan kemampuan turun-temurun mengarungi lautan, mereka bisa berperan sebagai garda terdepan menjaga kelestarian perairan biru.
"Kami bukan pencemar atau perusak. Pemerintah seharusnya membuat strategi kebijakan yang melibatkan kami," sambung Andi lagi.