ISTANA Negara kedatangan tamu tepat sehari sebelum Tahun Baru Islam 1437 Hijriah, Selasa pagi pekan lalu. Di kala paket-paket kebijakan ekonomi pemerintah sedang deras meluncur, pengurus Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) seperti Jongkie D Sugiarto, Yohannes Nangoi, Johnny Darmawan menemui Presiden Joko Widodo. "Kami meminta pengurangan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) sedan dan sport utility vehicle (SUV) kecil, pembebasan bea masuk komponen serta bahan baku untuk mobil ekspor, juga tax holiday untuk industri komponen," cerita Ketua II Gaikindo Yohannes Nangoi saat dihubungi Media Indonesia, Senin pekan ini.
Satu lagi yang diusulkan ialah perbaikan dan penyempurnaan fasilitas uji tipe kendaraan di dalam negeri agar pengujian kendaraan tak perlu lagi dilakukan di luar negeri sehingga mengurangi beban biaya. Usulan-usulan tersebut, jika dikabulkan, bakal membuat harga jual sedan dan SUV untuk pasar dalam negeri maupun mobil untuk tujuan ekspor dapat disetel lebih kompetitif. Gaikindo berharap PPnBM sedan atau pun SUV yang 30% diturunkan menjadi sama dengan kendaraan jenis multipurpose vehicle (MPV) yakni 10%.
"Dengan pajak sama, pasar domestik tumbuh, lalu kita bisa naikkan produksi dalam negeri. Produksi dalam negeri kuat dan akhirnya bisa ekspor dua model itu lebih banyak lagi," ujarnya lagi. Ia menjelaskan saat ini sebagian SUV kecil didatangkan dari Thailand. Yohannes lalu memperbandingkan kuota ekspor industri roda empat Indonesia dengan Thailand. Tahun lalu, Thailand memproduksi 1,8 juta unit kendaraan. Sebanyak 800 ribu untuk pasar domestik, 1 juta unit untuk ekspor.
"Indonesia tahun lalu konsumsi domestik 1,2 juta, tapi ekspor hanya 200 ribu unit," tegas Yohannes. Adapun kapasitas produksi industri otomotif Indonesia mencapai 1,9 juta unit. "Tahun ini penjualan mobil hanya 950-1 juta unit dan ekspor 200 ribu. Masih ada sekitar 700 ribu unit kapasitas yang belum terpakai," sambungnya.
Belum signifikan Menilik data Gaikindo, volume penjualan dan pangsa pasar sedan dan SUV kecil memang tidak signifikan. Sedan bahkan hanya memiliki pangsa pasar di kisaran 2% setiap tahun. Pada Januari-September 2015 saja, penjualan sedan hanya 2,02% dari total pasar mobil nasional yang turun drastis 21,97% menjadi 764.683 unit. Sementara transaksi jual-beli SUV kecil atau low SUV di sembilan bulan berjalan tumbuh 28,9% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 55.116 unit, dengan pangsa pasar 7,21%.
Saat penjualan mobil mencapai 1,2 juta unit di 2013 dan 2014, 'kue penjualan' SUV kecil berkutat di 4%-5%. Jika PPnBM sedan serta low SUV dapat menjadi 10%, Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia Mukiat Sutikno percaya volume penjualan domestik sedan dapat naik 3%-5% minimal dalam dua tahun di kondisi ekonomi yang normal. Transaksi jual-beli SUV kecil malah bisa bertambah setidaknya 10% berkat harga SUV yang mampu ditekan hingga di bawah Rp200 juta.
Mukiat meyakini pula insentif yang diajukan Gaikindo berpotensi menciptakan permintaan domestik dan ekspor secara simultan. "Kalau permintaan ekspor menjadi lebih banyak akan membantu biaya produksi lokal dan menciptakan harga kompetitif," pungkasnya. Saat merespons keinginan pelaku sektor otomotif tersebut, Direktur Jendral Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, Elektronikan Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Wirawan mengakui pentingnya pertumbuhan sedan dan SUV agar Indonesia menjadi basis produksi ekspor mobil. "Kami sedang melakukan kajian terhadap permintaan tersebut," pungkasnya melalui pesan singkat.
Industri komponen Yohannes tak lupa menekankan pentingnya menumbuhkan industri komponen nasional melalui tax holiday. Ia mencontohkan pemerintah Thailand yang memberikan insentif fiskal serupa. Hal itu berdampak pada industri komponen di Thailand yang kini berisi 2.500 perusahaan. Di Indonesia sendiri hanya seperempatnya, baru ada 600-700 perusahaan komponen.
"Apakah perusahaan luar negeri yang ke sini atau perusahaan kita berkoalisi dengan luar negeri tidak masalah selama pabriknya di Indonesia. Ada alih teknologi, penyerapan tenaga kerja, dan pemasukan pajak negara," klaim Yohannes. Di sisi lain, tax holiday memberikan keleluasaan lebih bagi agen tunggal pemegang merek (ATPM) dalam penyusunan biaya produksi, penetapan harga, dan profitabilitas. "Kalau komponen mungkin efeknya lebih ke costing dan profitabilitas ATPM," jelas Kepala Datsun Indonesia Indriani Hadiwidjaja, Selasa pekan ini di Jakarta.