Mendesak Dilakukan Revitalisasi Rempah Indonesia

MI/Faw
20/10/2015 00:00
Mendesak Dilakukan Revitalisasi Rempah Indonesia
(Foto Antara/Anis Efizudin)
INDONESIA di masa lalu terkenal dengan potensi produksi rempah-rempahnya, saat ini mulai dipertanyakan. Hal ini ditandai dengan terus merosotnya produksi  berbagai komoditas rempah Indonesia. Misalnya, untuk produksi lada Indonesia dari nomor 1 telah merosot menjadi nomor 4, tergeser oleh Vietnam, India dan Brasil. Panili Indonesia dari nomor 2 merosot ke nomor 6 dunia, sedangkan kulit kina Indonesia dari Negara pengekspor kulit kina terbesar dunia (90%) sampai tahun 1942, saat ini menjadi pengimport kulit kina terbesar dunia. Untuk kayumanis dan pala walaupun produksi Indonesia masih tinggi, tetapi sudah masuk lampu merah dan terancam oleh beberapa negara pesaing seperti Granada, India, Sri Langka dan lain-lain.

Merosotnya produksi dan ekspor komoditas rempah, mengakibatkan Indonesia saat ini bukan lagi menjadi Negara produsen rempah utama dunia, hasil devisa merosot dan tingkat pendapatan petani juga menurun Berbagai permasaahan pada komoditas rempah Indonesia itu akan dibahas dalam kegiatan lokakarya yang  berlangsung di  Hotel Bela Internasional, Ternate, Maluku Utara Rabu-Jumat (21-23 Oktober 2015.) Kegiatan itu diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian, Dewan Rempah Indonesia dan Pemda Provinsi Maluku Utara.

Menurut Dirjen Perkebunan Kementan Gamal Nasir dan Ketua Umum Dewan Rempah Indonesia, Adi Sasono, kemarin,  di Jakarta,  kegiatan lokakarya tersebut memiliki tujuan, misi dan tindak lanjut antara lain; Merumuskan masukan untuk mendorong program mengembalikan kejayaan rempah Indonesia melalui peningkatan produksi, hilisasi dan perluasan pasar yang didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya, dengan bahasan khusus untuk pengembangan integrasi hulu hilir komoditas rempah.

Dengan tujuan itu maka, diharapkan dapat terselenggara tata niaga rempah yang berkelanjutan melalui sinergi antara pemangku kepentingan dengan harapan rempah Indonesia dapat menjadi tuan di negerinya sendiri. Gamal menambahkan, jumlah tanaman rempah di Indonesia sangat banyak, diperkirakan lebih dari 7.000 jenis, namun yang sudah diidentifikasi kandungan unsure yang berkhasiat rempah baru sekitar 1.200 jenis, itupun sebagain besar belum dibudidayakan masih data tumbuh alami.

Sampai saat ini, komoditas rempah Indonesia dilaksanakan dalam skala kecil berupa kebun-kebun milik petani. Dengan input budidaya yang minimal, produktivitas rempah Indonesia masih belum maksimal. Kendala lainnya yaitu kualitas produk yang masih rendah. Hasil produk rempah Indonesia masih ada yang tercemar, baik yang tercemar oleh bahan berbahaya ataupun oleh mahluk hidup yang membahayakan kesehatan manusia. Selain ini, cara pengemasan yang belum standar menyebabkan kualitas produk rempah menjadi rendah. Untuk itulah dibutuhkan suatu greakan seperti revitalisasi dari hulu ke hilir untuk komoditas rempah Indonesia. Dengan adanya revitalisasi rempah Indonesia diharapkan akan memperbaiki kondisi rempah Indonesia sejak dari hulu hingga ke hilir.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya