"DESA Wonorejo sekarang ini tidak seperti dahulu kala yang ketika ketigo (musim kemarau) datang, maka kami sulit cari air. Zaman dulu, kami bahkan sering mengungsi mandi di sawah," ucap Muntaha, salah satu warga Desa Wonorejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, saat ditemui, Senin (12/10) lalu. Kemarau panjang yang melanda Indonesia dalam beberapa bulan terakhir telah menyebabkan kekeringan di mana-mana, termasuk Wonorejo. Namun, Muntaha dan warga Desa Wonorejo lainnya boleh berlapang dada saat ini. Program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) yang dirintis sejak 2012 pun menjadi penyelamat mereka, terlebih dalam kondisi kemarau saat ini.
Darimana air bersih diperoleh? Muntaha menjelaskan, air sumur dalam diperoleh setelah menggali tanah hingga kedalaman 100 meter ditampung dalam sebuah menara air. Lalu, air disalurkan ke rumah-rumah warga yang dikelola oleh kelompok-kelompok usaha Pamsimas. Sistem pengolahan airnya sederhana dan tidak memerlukan keahlian khusus. Warga yang berminat cukup membayar Rp1.000 per meter kubik, lebih ringan dari beban pemakaian air yang dikenakan perusahaan air minum. Biaya pembangunan satu Pamsimas yang cukup besar mencapai Rp160 juta menjadi kendala tersendiri warga. Pemenuhan dana pun diperoleh melalui bantuan dari pihak lain dan swadaya warga. Seperti Pamsimas Tirto Unggul I yang dibangun pada 2012 lalu, lewat bantuan langsung masyarakat (BLM).
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberikan dana lewat program Pembangunan Desa Pesisir Tangguh (PDPT) yang saat ini berganti nama menjadi Pembangunan Kawasan Pesisir Tangguh (PKPT). Saat itu, jumlah bantuan yang diberikan KKP untuk Desa Wonorejo mencapai Rp414 juta yang mencakup pembuatan tanggul laut, peninggian jalan, penerangan jalan, pembuatan jembatan antardesa, pembangunan bak sampah, pengadaan alat indikator banjir, penanaman ma ngrove, penerangan jalan dan dukungan usaha makanan olahan berbasis bandeng. Dari jumlah tersebut, khusus untuk Pamsimas, KKP mengalokasikan dana Rp162 juta untuk pembangunan tower air, pengeboran sumur, dan pemasangan pipa. "Lewat bantuan PDPT itu kami bersyukur, air bersih sebagai prioritas utama tercukupi. Apalagi, di musim seperti ini. Terasa sekali manfaatnya," timpal Abdul Muisz, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bina Mandiri, pengelola aset-aset daerah di Desa Wonorejo. Kini, terdapat empat Pamsimas yang menyuplai air ke tiga dusun berisi lebih dari 1.000 kepala keluarga (KK), yakni Sumur Warga, Serasi I, Serasi II, Toyo Hinggil, dan Tirto Unggul I.
Menuju ketangguhan kawasan pesisir Bukan tanpa alasan, KKP memilih Kendal sebagai salah satu peserta program PDPT. Wilayah pesisir Kendal termasuk salah satu lokasi rawan bencana dan dampak perubahan iklim dengan potensi ekonomi lokal unggulan dan motivasi besar untuk memperbaiki kehidupannya. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kendal Tjipto Wahjono me nerangkan, masyarakat pesisir kebanyakan berisi nelayan miskin yang hanya melaut sekadar untuk makan sehari-hari. Kalau tidak dapat tangkapan, mereka berutang. "Desa Wonorejo misalnya. Di sana kalau hujan banjir dan becek, airnya payau, dan sanitasi jelek.
Melalui PDPT yang membangun sarana air bersih yang dikelola bersama, membangun infrastruktur dan fasilitas MCK, Pemerintah berharap derajat kehidupan mereka akan terangkat dan semakin tangguh dalam menghadapi bencana maupun dampak perubahan iklim yang terjadi," sebutnya. Direktur Pesisir dan Lautan KKP M Eko Rudianto menjelaskan, program PDPT bertujuan mengintervensi suatu kawasan selama 3 tahun di lima bidang, yaitu manusia, usaha, sumberdaya, lingkungan dan infrastruktur serta siaga bencana dan adaptasi perubahan iklim. Kelima fokus ini harus samasama dibangun guna mencapai ketangguhan masyarakat. "Supaya berkelanjutan, PDPT mendorong terbentuknya suatu kelembagaan, seperti BUMDes di Wonorejo," jelas Eko. Dengan adanya BUMDes diharapkan masyarakat tidak hanya tangguh secara ekonomi namun juga dapat meningkat kesejahteraannya.
BUMDes Bina Mandiri yang diresmikan di Balai Desa Wonorejo, pada 23 April 2013 diharapkan mampu menjadi ujung tombak pemasaran hasil usaha masyarakat desa sehingga warga yang mempunyai usaha akan mampu bertahan, berkembang dan bersaing di era globalisasi. Manfaatnya sungguh terasa setelah dua tahun kehadiran BUMDes. Dari lini usaha jasa, BUMDes kini mengelola empat unit Pamsimas dengan omzet masing-masing ratarata Rp3,5-Rp5 juta per bulan. Itu belum dipotong dengan pembelian listrik prabayar Rp1,5 juta, upah kolektor, iuran BUMDes dan honor pengurus BUMDes. Ada juga Lembaga Pendidikan Kursus Komputer yang baru berjalan satu paket. Dari lini usaha perdagangan, BUMDes memiliki Koperasi Serba Usaha dengan 58 anggota dan terus bertambah. Unit usaha ini tentunya masih akan bertambah di lini pemasaran home industry dan pengelolaan bank sampah. Kendal terkenal dengan produk olahan bandeng tanpa duri dan budi daya udang vannamei khusus ekspor.
Tjipto mengatakan, penyediaan air bersih mampu meningkatkan kualitas hidup, koperasi membantu meningkatkan kesejahteraan anggota dan lembaga keterampilan membantu meningkatkan SDM. "Ketiga inilah hasil kerja keras bersama warga di wilayah pesisir Desa Wonorejo," imbuhnya. Kehadiran BUMDes Bina Mandiri telah membuat lompatan penting dalam kehidupan warga Desa Wonorejo dengan BLM PDPT sebagai pembukanya. Selain Kendal, masih ada 37 kawasan pesisir lain yang menjadi lokasi kawasan pesisir tangguh dengan kisah suksesnya masing-masing.