Permata Jadi Primadona

Tesa O Surbakti
16/10/2015 00:00
Permata Jadi Primadona
(MI/RAMDANI)
NERACA perdagangan luar negeri Indonesia pada September 2015 kembali mendulang surplus, yakni US$1,02 miliar. Meski begitu, performa ekspor nasional masih lemah.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor pada September turun 1,55% dari Agustus 2015. Secara akumulatif Januari-September 2015 pun, ekspor turun 13,3% dari periode sama tahun lalu (yoy). Penurunan itu tidak hanya pada nilai, tapi juga volume kumulatifnya yang turun 7,9% (yoy). "Ekspor migas turun 5,2% dan ekspor nonmigas turun 1,06%," papar Kepala BPS Suryamin dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Faktor susutnya nilai ekspor migas mencakup ekspor minyak mentah, serta hasil minyak dan gas yang antara lain disebabkan depresiasi kurs. Adapun secara volume, ekspor minyak mentah dan gas masih naik. 

Sementara itu, penciutan ekspor nonmigas dipengaruhi merosotnya nilai ekspor mesin-mesin/pesawat mekanik, juga ekspor batu bara, karet dan barang karet, berikut kopi, teh, dan rempah.

Sebaliknya, depresiasi rupiah berdampak positif terhadap eks­por komoditas perhiasan/permata yang mengalami kenaikan mencolok hingga melebihi 30%.

Suryamin menduga banyak negara peminat komoditas tersebut memanfaatkan momentum dengan meningkatkan permintaan ekspor karena harganya jadi lebih murah.

Terkait pasar ekspor komoditas yang mampu memukau mata itu, ia menyebut antara lain Tiongkok, Jepang, Afrika Selatan, Eropa, dan Singapura. "Prospek permata dan perhiasan kita memang bagus karena keunikannya. Ditambah situasi akhir-akhir ini, pelemahan rupiah menguntungkan buat mereka yang mengimpor produk permata dan perhiasan dari kita."

Menarik intisari dari kinerja ekspor-impor September, lanjutnya, ada beberapa sektor yang berprospek cerah dalam mengerek naik ekspor. Selain perhiasan dan permata, pemerintah dan pengusaha bisa menyasar sektor lemak dan minyak nabati, mesin/peralat-an listrik, plus industri pengolahan berbasis sumber daya kelautan, seperti ikan tuna.

Label halal
Dalam kesempatan terpisah, Kadin Indonesia mendesak pemerintah untuk membentuk satuan tugas pendorong ekspor produk halal. Meski punya potensi besar, ekspor produk halal Indonesia masih terkendala peta bisnis dan standardisasi label halal.

Satgas tersebut, kata Ketua Komite Timur Tengah Kadin, Mohamad Bawazeer, akan bertugas untuk memformulasikan kebijakan tepat terkait ekspor produk halal. "Kita minta amendemen UU Jaminan Produk Halal karena selama ini ekspor tidak diatur," katanya seusai workshop mengenai strategi menembus pasar produk halal global, di Jakarta, kemarin.

Padahal, permintaan produk halal dunia ditaksir terus meningkat. Pada 2019, pasarnya dapat mencapai US$3,7 triliun dari US$2 triliun pada 2013.

Selain melalui satgas, pihaknya juga baru meneken MoU dengan Islamic Chamber of Commerce, Industry, and Agriculture (ICCIA) untuk perlindungan ekspor produk halal Indonesia. Melalui kerja sama itu, ekspor produk halal Indonesia ditargetkan bisa naik 100%.

"Dalam perjanjian itu, kita sudah kirimkan standardisasi halal Indonesia agar mengacu pada standar internasional. Jadi semoga pelaksanaannya terhadap ekspor kita ke Timur Tengah bisa berjalan tahun depan."

Selama ini, ekspor produk halal Indonesia dilakukan melalui Malaysia karena label halal negeri jiran tersebut lebih tepercaya di pasar Timur Tengah. Nilai ekspor produk halal Malaysia ke negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mencapai US$10 miliar per tahun. Adapun pada 2014, nilai ekspor Indonesia pada segmen sama hanya US$763 juta. "Makanya kita ekspor banyaknya ke Malaysia sekitar 41,3%, sedangkan ekspor kita ke Arab Saudi hanya 19,56%," jelas Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Salman Alfarisi. (Wan/E-2)

tesa@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya