Pertamina Fokus ke Energi Baru

Dero Iqbal Mahendra
09/12/2016 05:51
Pertamina Fokus ke Energi Baru
(ANTARA/Adwit B Pramon)

PT Pertamina (persero) siap berinovasi meluncurkan produk-produk yang lebih ramah lingkungan.

Hal itu merupakan bagian dari antisipasi tren global yang lebih menerima produk-produk ramah lingkungan.

"Bahan bakar minyak dari fosil mulai mendapat penolakan di sejumlah negara beberapa tahun ke depan. Ini harus diantisipasi," sebut Wakil Direktur Utama Pertamina Ahmad Bambang saat menerima penghargaan Marketeers of The Year (MOTY) 2016 di Jakarta, Rabu (7/12).

Dia mencontohkan, ke depan, Eropa sudah mengisyaratkan tidak mau menerima solar untuk diesel. Beberapa produk industri juga mulai bergeser ke listrik dan energi terbarukan lainya.

Selain itu, konsumen semakin sadar dengan pentingnya menjaga lingkungan hidup.

Mereka cenderung meninggalkan produk yang berdampak buruk bagi lingkungan.

"Kalau Pertamina masih saja menjual produk-produk konvensional seperti sekarang, ke depan nasib perseroan ini akan ditinggalkan orang," tambah Ahmad.

Sebagai bentuk antisipasi dari tren yang berkembang, kini Pertamina semakin giat melakukan transformasi.

Untuk itu, Bambang menargetkan pada 2017 nanti Pertamina sudah harus masuk ke sektor energi baru dan terbarukan.

Salah satunya Pertamina harus masuk ke sektor solar cell dan baterai listrik berkapasitas besar.

Ia mencontohkan, saat ini untuk penerangan tol, rumah penduduk di wilayah remote dan kendaraan bermotor sudah banyak yang menggunakan tenaga baterai dan solar cell.

Sayangnya, semua kebutuhan tersebut masih diimpor.

"Kita akan buat pabriknya di dalam negeri. Saat ini kami sedang dalam penjajakan dengan partner."

Selain itu, produk-produk konvensional Pertamina kini dirancang untuk lebih ramah lingkung-an sebagai substitusi dari prodduk yang sudah ada.

Contohnya ialah Pertalite, bensin beroktan 90 yang menjadi alternatif premium yang memiliki oktan 88.

Lalu, dexlite, bright gas 5,5 kg, dan lainnya.

Bahkan, berkat inovasi produk tersebut, Ahmad menerima penghargaan Marketeers of The Year 2016.

"Produk itu menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menikmati produk nonsubsidi," ujar Ketua Dewan Juri MOTY Arief Yahya.

Arief, yang juga Menteri Pariwisata, menambahkan produk inovasi Pertamina tersebut kini menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menikmati produk nonsubsidi.

Premium

Pada kesempatan itu, Ahmad menuturkan, sampai Oktober 2016, stok BBM premium secara nasional tinggal 48% dari yang dulunya 96%.

Adapun BBM pertalite perlahan menggeser posisi BBM Premium, dengan komposisi nasional saat ini 32%, dan sisanya diduduki BBM pertamax.

Lebih lanjut, Bambang menjelaskan, saat ini volume BBM pertalite telah menembus 30 juta liter per hari, dengan ketersediaan sudah ada di hampir 4.000 SPBU dari sekitar 5.300 SPBU Pertamina.

"Premium memang masih kami jual sebab penugasan negara, jadi tidak boleh kosong," tutur Bambang.

(Arv/Ant/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya