Pedagang Konvensional Gigit Jari

Yanurisa Ananta
09/12/2016 04:21
Pedagang Konvensional Gigit Jari
(MI/Panca Syurkani)

CEPAT, murah, dan mudah.

Demikian tertulis pada iklan-iklan situs jual beli dalam jejaring (daring) atau online.

Hadirnya situs daring yang menjual berbagai barang, mulai makanan, pakaian, elektronik hingga furnitur itu memang mempermudah masyarakat dari segi biaya, waktu, dan tenaga untuk mendapatkan berbagai keperluan.

Tidak mengherankan bila kian hari makin banyak masyarakat yang menyukai berbelanja daring ketimbang harus mendatangi pusat perbelanjaan.

Namun, di sisi lain keberadaan perdagangan daring perlahan tapi pasti mengge-ser transaksi konvensional di toko-toko dan pusat elektronik yang sempat berjaya di awal 2000.

Salah satu pusat perdagangan elektronik yang nasibnya terancam tergeser ialah pertokoan alat elektronik di ITC Roxy Mas, Cideng, Jakarta Pusat.

Pada awal 2000 toko-toko tersebut mendulang keuntungan segunung. Saat itu, barang-barang seperti telepon selular (ponsel) dan laptop yang harganya mahal tetap diserbu pembeli seiring makin populernya internet.

Sejumlah pedagang di sana belakangan harus memutar otak agar bisa bertahan di tengah persaingan antarpenjual konvensional dan gempuran situs jual beli daring.

Mereka mengaku beberapa tahun belakangan kehilangan pembeli dan margin keuntungan kian menipis lantaran harga barang elektronik kian murah.

Berdasarkan pantauan Media Indonesia di ITC Roxy Mas beberapa waktu lalu, hampir semua toko elektronik masih didatangi pembeli.

Namun, kehadiran mereka tidak berbanding lurus dengan pendapatan serta keuntungan yang diperoleh pedagang.

Di antara pengunjung, hanya sebagian kecil yang membeli barang.

Selebihnya cuma melihat-lihat fisik barang atau sekadar membandingkan harga dari satu toko ke toko lain.

Setidaknya itu yang dirasakan Lisa, pemilik Toko NL Cellular di lantai 3 UTC Roxy Mas.

Perempuan itu mengaku margin keuntungan usahanya menipis karena selain harus bersaing dengan sesama pemilik toko konvensional, ia harus bersaing dengan bisnis daring yang menawarkan beragam kelebihan. Belum lagi, ia juga harus bersaing dengan gerai modern.

"Penurunan pendapatan makin terasa selama dua tahun terakhir. Di awal 2000-an, saya sehari bisa jual lima handphone bekas. Sekarang, paling cuma satu," katanya.

Apalagi, tambahnya, daya beli masyarakat semakin tinggi sehingga pembeli ponsel bekas berkurang karena mereka memilih membeli ponsel baru.

Karena itu, 16 tahun lalu ponsel baru dagangannya rata-rata hanya terjual dua unit per hari, kini bisa mencapai 10 unit.

Ikut arus

Kendati begitu, ujar Lisa, keuntungan yang didapat tetap jauh di bawah perolehan dahulu.

Keuntungan dari penjualan satu ponsel baru di awal 2000-an sama dengan keuntungan penjualan 10 ponsel saat ini.

Agar bisa bertahan dari ancaman bangkrut atau mendapatkan keuntungan sedikit lebih besar, para pedagang belakangan ikut arus.

Mereka belakangan juga membeli barang dagangan lewat online sebab pasar daring menawarkan beragam promosi berupa potongan harga karena bekerja sama dengan sejumlah bank.

"Untuk beberapa jenis handphone, saya terpaksa beli di online juga karena kadang lebih murah bila dibandingkan dengan membeli di diler," kata Lisa yang sesekali berbelanja melalui daring.

Hal serupa juga dialami Ricky, pemilik Toko Cahaya Computer.

Ia menyebutkan pada 2006 sehari rata-rata ia kedatangan 5-6 pembeli. Kini, hanya 1-2 pembeli yang datang ke tokonya.

"Padahal, saya harus bayar sewa kios yang naik 10% setiap tahun. Sakarang sewanya sudah Rp250 juta," kata Ricky.

(J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya