Praktis dan Tanpa Terjebak Kemacetan

Aya/J-2
09/12/2016 00:00
Praktis dan Tanpa Terjebak Kemacetan
(ANTARA/Lucky R.)

MASYARAKAT urban Jakarta dikenal memiliki mobilitas tinggi.

Tidak banyak waktu yang dimiliki meski sekadar untuk survey harga saat akan membeli barang elektronik.

Waktu libur dipilih untuk dihabiskan bersama keluarga atau beristirahat setelah bekerja sepekan.

Oleh karena itu, berbelanja barang elektronik banyak di antara mereka yang mengandalkan toko daring (dalam jejaring).

Feny, 30, seorang karyawan perusahaan swasta di kawasan Tanah Abang mengaku pernah membeli laptop melalui toko daring.

Ia memilih toko daring karena enggan menghadapi kemacetan lalu lintas di sekitar pusat perbelanjaan elektronik di hari liburnya, Sabtu dan Minggu.

"Saya enggak sempat pergi ke pusat perbelanjaan barang elektronik. Pada hari kerja saya selalu pulang malam,. Hari Sabtu dan Minggu, pasti macet banget di sekitar pusat perbelanjaan," katanya beberapa waktu lalu.

Namun Feny tidak sembarang membeli barang melalui daring.

Sebelum menekan tombol 'beli' pada satu aplikasi jual beli daring, ia akan melakukan survey produk yang sama di beberapa market place.

Setelah mempertimbangkan fitur dan harga, Feny baru bisa memutuskan aplikasi jual beli daring mana yang ia percaya.

Mega, 30, mengungkapkan hal sama.

Pergi ke pusat perbelanjaan elektronik membuatnya pusing karena setiap melintasi toko selalu ditawari produk.

Sekalipun ia harus membeli barang elektronik di toko, ia akan memilih gerai modern, meski harganya lebih mahal.

"Saya pusing kalau harus ke toko di pusat perbelanjaan, saking banyaknya. Kalau harus beli di toko pun, saya pilih modern channel (gerai modern). Meski harganya lebih mahal, tapi di sana saya bisa membayranya dengan cara dicicil," ujarnya.

Di sisi lain, tidak semua orang percaya dengan jual beli barang elektronik melalui daring.

Susan, 24, tidak berani membeli barang elektronik dengan harga di atas Rp500 ribu secara daring.

Ia harus memastikan sendiri kualitas barang yang akan dibelinya secara langsung ke toko.

"Pertama, karena saya tidak tahu jaminannya seperti apa. Ponsel (telepon seluler) saya sekarang seharga Rp7 juta. Harga yang tidak murah. Jadi saya harus memastikan bahwa baterainya tahan lama dan kondisi fisiknya baik," katanya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya