Minat Perusahaan Melantai di Bursa Minim

Fetry Wuryasti
07/12/2016 04:21
Minat Perusahaan Melantai di Bursa Minim
(ANTARA/Muhammad Adimaja)

Ada 52 perusahaan dengan jumlah aset dan pendapatan tinggi dan didapatkan dari Indonesia, tapi listing mereka di luar negeri.

MINAT perusahaan untuk melakukan initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tergolong minim. Imbasnya, target IPO yang selama ini ditetapkan BEI tidak pernah tercapai lantaran perusahaan masih enggan menjadi perusahaan terbuka.

“Target untuk IPO tidak pernah tercapai. Bahkan ada kecenderungan tren mengalami penurunan,” sebut Direktur Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Isakayoga pada acara sosialisasi IPO kepada 100 perusahaan nasional, di Jakarta, kemarin.

Padahal, dengan perusahaan melantai di bursa saham, banyak manfaat yang bisa diraih dan berdampak kemajuan bagi perekonomian nasional. Bagi perusahaan, tentunya IPO membuat mereka mendapat tambah­an modal untuk melakukan ekspansi. Dengan menjadi emiten di bursa saham, per­usahaan juga akan semakin transparan dan distribusi keuntungan ke masyarakat bisa diperluas.

Otoritas terkait, menurut Isakayoga, seyogianya perlu segera mengkaji penyebab rendahnya minat perusahaan menjadi emiten di BEI. AEI sendiri, lanjut dia, telah memiliki sejumlah dugaan penyebab rendahnya minat perusahaan.

Itu, antara lain, ada kemungkinan perusahaan belum paham soal keuntungan menjadi perusahaan terbuka. Bila ternyata itu masalahnya, dia menyarankan sosialisasi ke perusahaan agar perlu lebih digencarkan.

Terlebih, dari sisi regulasi, pihak otoritas telah memberikan kemudahan-kemudahan, termasuk dalam hal membayar pajak. Saat ini ada pengurangan 5% untuk mereka yang menawarkan saham minimal 40%.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio mengamini pernyataan Isakayoga. Dia sepakat berbagai upaya seperti sosialisasi dan insentif perlu dilakukan untuk memancing minat para calon emiten.

BEI sendiri, lanjut Tito, telah menargetkan mampu menarik minimal 30 perusahaan untuk IPO. Dia mengimbau perusahaan untuk menjadi perusahaan terbuka mengingat akan terlihat transparansinya. Di 2017, kata Tito, 14 anak perusahaan BUMN bahkan sudah memberi sinyal akan melakukan penawaran umum.

Luar negeri

Pada kesempatan tersebut, Tito juga mengungkapkan adanya perusahaan yang tidak sudi mencatatkan saham di BEI, tetapi mereka listing di bursa saham negara lain. Tito sangat menyesalkan praktik tersebut. Hal itu disebabkan perusahaan-perusahaan tersebut memperoleh pendapatan di Indonesia.

Tito menyebut ada 52 per­usahaan dengan jumlah aset dan pendapatan tinggi dan didapatkan dari Indonesia, tapi listing mereka di luar negeri. Padahal, perusahaan-perusahaan tersebut telah layak untuk melakukan IPO di Indonesia. Sebanyak 52 perusahaan tersebut terdiri dari berbagai sektor, seperti pertambangan, properti, dan logistik.

“Ini kan sangat tidak elok. Mereka meraup untung di sini, tetapi melantai di bursa negara lain,” kecam Tito.

Untuk itu, Tito mengatakan, pihaknya bakal terus mengejar para perusahaan tersebut untuk mau mencatatkan nama perusahaan di BEI. Menurut dia, sudah ada tiga perusahaan yang berjanji akan melakukan dual listing pada tahun depan.

Selain itu, dirinya menyatakan telah mempersiapkan sejumlah strategi untuk dapat menarik perusahaan supaya dapat masuk dan tercatat di BEI menjadi perusahaan terbuka. (Ant/E-4)

fetry@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya