PELIKNYA kondisi pasar otomotif pada 2015 belum juga dapat teratasi dengan paket kebijakan ekonomi pemerintah yang telah mencapai jilid ketiga. Penurunan penjualan tahun ini masihlah sebesar yang diprediksikan sebelum munculnya paket kebijakan. Perlambatan ekonomi dan pelemahan daya beli yang terjadi sepanjang tahun memang berdampak besar pada transaksi jual beli mobil. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) teranyar saja, penjualan Januari-September turun 18,01% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2014. Sepanjang sembilan bulan berjalan, para agen tunggal pemegang merek (ATPM) secara kolektif cuma membukukan transaksi komersial sebanyak 764.683 unit.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang anjlok, buruknya harga komoditas, serta realisasi anggaran pemerintah yang mandek menjadi faktor utama. "Ada tiga penyebabnya. Pertama ekonomi AS menguat sehingga berdampak pada nilai tukar dolar secara keseluruhan. Kedua turunnya harga komoditas utama yang merupakan sumber ekspor Indonesia. Ketiga ialah pembelanjaan anggaran pemerintah yang kurang jalan," papar Presiden Direktur PT Nissan Motor Indonesia Stephanus Ardianto kepada Media Indonesia, Rabu (7/10) di Jakarta.
Seperti diberitakan, pemerintah merilis paket-paket kebijakan ekonomi pada 9 September, 29 September, serta 7 Oktober. Paket kebijakan perdana antara lain bertujuan mendorong daya saing usaha melalui deregulasi plus debirokratisasi, mempercepat realisasi megaproyek infrastruktur, pun mendorong investasi sektor properti. Paket kebijakan kedua lebih berfokus pada percepatan proses investasi dan izin usaha, juga pemberian fasilitas perpajakan seperti insentif pajak bunga bagi pengusaha yang menyimpan devisa hasil ekspor (DHE) di perbankan. Paket ketiga berisi penurunan tarif listrik dan reduksi harga BBM diesel dan gas; perluasan penerima kredit usaha rakyat; hingga penyederhanaan izin pertanahan bagi kegiatan penanaman modal.
Pelaku industri otomotif mengapresiasi inisiatif pemerintah mencetuskan paket kebijakan ekonomi dan mengakui hal itu sedikit banyak turut memengaruhi penguatan kurs rupiah yang kini di kisaran 13.500-an per US$. "Saya lihat langkah pemerintah bagus. Dengan yang paket kebijakan yang baru ini, pemerintah ingin dorong pelaksanaan proyek-proyek megainfrastruktur untuk menstimulasi ekonomi. Lalu ada deregulasi perdagangan," aku Stephanus. Meski demikian, target penjualan 2015 yang dipegang Gaikindo dan pabrikan tak beranjak dari 950 ribu-1 juta unit, atau turun di kisaran 17%-21% ketimbang setahun silam. Mengapa demikian? "Paket-paket kebijakan itu sifatnya masih terlalu umum. Sepertinya target tidak akan berubah, tetap 950 ribu-1 juta unit," aku Sekretaris Umum Gaikindo Noegardjito di Jakarta, Kamis (8/10). Kebijakan spesifik Noegardjito berharap pemerintah dapat mengeluarkan lebih banyak kebijakan yang secara spesifik mampu meningkatkan pasar domestik. Beberapa yang disebutkan Noegardjito ialah penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia ataupun kebijakan-kebijakan dalam rangka menurunkan tingkat inflasi. "Suku bunga, kalau turun, dapat membantu pasar otomotif. Itu yang paling diharapkan karena pembelian lewat kredit itu di atas 65%. Semoga hal itu bisa dilakukan di paket kebijakan ekonomi jilid empat," harap Noegardjito meski ia menyadari penurunan suku bunga ialah domain Bank Indonesia dan bukan wewenang pemerintah.
Stephanus, di sisi lain, memprediksi bobot pasar roda empat di tahun depan pun masih stagnan. Harga jual komoditas utama yang belum kembali normal ia tunjuk sebagai alasannya. Padahal, determinan tersebut ia nilai memiliki dampak besar untuk ekspor dan untuk ekonomi Indonesia. "Taruhlah faktor anggaran pemerintah sudah jalan, lalu kondisi ekonomi Amerika Serikat mulai normal. Tinggal persoalan harga komoditas ini. Kalau bisa kembali normal, bisa bagus (efeknya untuk pasar otomotif). Makanya kita masih agak konservatif untuk 2016," tandas Stephanus.
Pabrikan berharap pemerintah bersama Bank Indonesia dapat melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Naik-turunnya kurs rupiah terhadap dolar AS dari 11 ribu/US$ ke 14 ribu/US$ dalam hanya beberapa bulan menyulitkan ATPM dalam membuat perencanaan. "Mau berapa pun, yang penting stabil. Jadi, kami bisa buat perencanaannya. Mungkin harga disesuaikan, otomatis volume penjualan turun, kemudian rantai suplai disesuaikan walaupun yang idealnya memang Rp11 ribu-Rp12 ribu per US$," tutup Stephanus.