Turis Tiongkok Tercampur Imigran

Fathia Nurul Haq/E-4
03/12/2016 05:41
Turis Tiongkok Tercampur Imigran
(MI/Duta)

DALAM rentang tiga bulan terakhir, secara mengejutkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) asal Tiongkok telah mendominasi total kunjungan wisman ke Indonesia.

Dari total 1,040 juta wisman yang berkunjung ke Indonesia sepanjang Oktober saja, sebanyak 121.880 wisman berasal dari Tiongkok.

Jumlah itu sontak menem-patkan Tiongkok sebagai negara peringkat pertama pengirim wisman ke Tanah Air, diikuti Malaysia yang menduduki peringkat kedua.

Padahal berdasarkan pendataan Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya, Singapura menempati urutan teratas pengirim turis ke Indonesia.

Pada Oktober ini peringkat Singapura menurun di peringkat tiga dengan jumlah 111.993 wisman.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo, tren itu sudah berlangsung sejak Agustus lalu kendati secara keseluruhan jumlah wisman memang terus mengalami peningkatan konstan.

Di Oktober saja kenaikannya mencapai 3,38% jika dibandingkan dengan September.

Bila dibandingkan dengan jumlah wisman tahun lalu, peningkatan mencapai 18,55%.

Sasmito menerangkan peningkatan itu juga disumbang sistem pencatatan wisman yang membaik.

Bulan ini BPS juga mencatat jumlah wisman dari data roaming seluler, dengan asumsi jika pengguna merupakan WNA yang menggunakan data seluler kurang dari 5 hari, dikategorikan wisman.

Sayangnya, lanjut Sasmito, BPS tidak yakin peningkatan jumlah warga Tiongkok yang berkunjung ke sini ialah murni turis.

Dia menduga jumlah pengunjung asal 'Negeri Tirai Bambu' mungkin tercampur dengan jumlah imigran yang dipekerjakan proyek-proyek pemerintah yang dimenangi pemerintah Tiongkok.

"Bahkan bisa jadi sebagian juga merupakan para pekerja ilegal di sini," ujar Sasmito di Jakarta, Kamis (1/12).

Kecurigaan Sasminto memang beralasan.

Beberapa bulan belakangan memang timbul keresahan di berbagai daerah terkait dengan pekerja Tiongkok yang dianggap mengambil lahan kerja masyarakat lokal.

Salah satunya ialah pada proyek ruas ruas tol Balikpapan-Samarinda yang dibiayai pinjaman dari Tiongkok.

Imigran asal Tiongkok juga ditemukan tengah menjajal usaha cocok tanam cabai secara ilegal di Bogor hingga ditangkap polisi.

Meski sudah banyak bermunculan isu, Sasmito mengatakan perlu konfirmasi lebih lanjut mengenai arus imigrasi dari Tiongkok yang berkedok wisata.

Setidaknya dibutuhkan tiga bulan untuk memastikannya.

Namun, Sasmito berharap pekerja asing yang dipekerjakan sebagai bagian dari investasi Tiongkok merupakan pekerja berkemampuan alih-alih hanya buruh kasar.

"Hampir semua negara membawa pekerjanya, apakah yang expert atau kasar. Mudah-mudahan yang expert dan sifatnya temporary. Kita harus liat beberapa bulan ke depan, berlanjut atau tidak (dominasi wisman Tiongkok). Kalau tiba-tiba turun, mungkin faktor tenaga kerja," simpulnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya