Tingginya Harga Pangan Butuh Perhatian

Jes/Dro/Ant/E-2
03/12/2016 05:31
Tingginya Harga Pangan Butuh Perhatian
(MI/Ramdani)

PEMERINTAH tengah menyoroti beberapa harga kebutuhan pokok yang tengah naik, yakni cabai merah, ja-gung, dan sayuran.

Pedagang pasar pun menyarankan pemerintah untuk segera menangani persoalan itu sebelum pertengahan bulan ini.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan harga cabai dalam beberapa bulan terakhir me-lonjak tinggi karena banyak daerah yang gagal panen.

Namun, harga cabai sebenarnya sudah turun pada pekan lalu dan kemudian naik kembali sepanjang pekan ini.

"Belum ada penanganan khusus dari Kementerian Pertanian. Kami harap ada tindakan dari pemerintah sebelum 15 Desember nanti karena permintaan pasti akan naik," ucap Abdullah ketika dihubungi, kemarin.

Dia menyebut pada pekan ini harga cabai rawit merah mencapai di pasar eceran mencapai Rp52 ribu per kg, cabai merah besar Rp63 ribu per kg, dan cabai merah ke-riting Rp65 ribu per kg.

Pun, harga jagung dan sayuran diakuinya tengah melonjak naik karena musim hujan.

Pemerintah sendiri membuka peluang merevisi Permendag Nomor 63/M- DAG/PER/09/2016 tentang Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen.

Pasalnya ada kemungkinan dua komoditas yakni cabai dan kedelai dikeluarkan dari tujuh komoditas seperti beras, jagung, kedelai, gula, bawang merah, cabai, dan harga daging.

"Itu nanti kita akan laporkan dulu ke Presiden. Pasti akan ada aturan Permen yang baru atau bisa juga dilakukan revisi, tetapi ambil yang gampang sajalah," terang Darmin di Jakarta, kemarin.

Darmin mengungkapkan pencoretan cabai lebih karena pola masyarakat Indonesia yang lebih memilih cabai lokal daripada cabai impor.

Pengamat pertanian dari IPB Hermanto J Siregar mengingatkan pentingnya Indonesia memiliki data pangan untuk impor agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.

Ia mengapresiasi upaya pemerintah melalui Kemendag melakukan deregulasi ekspor dan impor.

"Tapi kalau datanya salah, kebijakan juga jadi salah."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya