Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KAWASAN Bintuni, Papua Barat, telah ditetapkan sebagai bakal kawasan industri di wilayah timur Indonesia.
PT Pupuk Indonesia (persero) telah mencanangkan pembangunan kawasan industri seluas 2.112 hektare di wilayah yang kaya akan sumbermineral dan gas alam tersebut.
"Bersama dengan Kementerian BUMN dan Kementerian Perindustrian, kami telah melakukan kajian berupa skema proyek, keekonomian proyek, serta proyeksi kebutuhan gas bumi," ujar Kepala Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia Wijaya Laksana di Jakarta, kemarin.
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, untuk pengembangan tahap awal, Pupuk Indonesia akan mengembangkan industri petrokimia, yakni metanol dan berbagai turunannya seperti etilena, propilena, polietilena, dan polipropilena di kawasan tersebut.
"Untuk tahap kedua baru kami akan kembangkan pupuk NPK," lanjutnya.
Sebelumnya, lanjut Wijaya, Pupuk Indonesia hendak mendirikan pabrik pupuk urea baru di kawasan Bintuni.
Namun, dengan melihat kondisi pasar internasional yang dianggap kurang prospektif pada saat ini, rencana tersebut pun diurungkan.
Pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan akan melibatkan anak-anak perusahaan yang bergerak di bidang utilitas dan logistik seperti PT Pupuk Indonesia Energi dan PT Pupuk Indonesia Logistik.
Untuk itu, proyek tersebut setidaknya membutuhkan pasokan gas sekitar 124 juta kaki kubik per hari (mmscfd) yang bisa dipasok dari kilang milik BP Indonesia di Papua Barat ataupun Blok Masela, Maluku Tenggara.
Kini Pupuk Indonesia pun masih menunggu penugasan resmi dari pemerintah dan kepastian konsep pengembangan Masela dari Inpex Corporation sebelum menentukan harga gas dari blok itu.
Cukup US$3 per mmbtu
Harga gas yang tinggi memang masih menjadi momok yang membuat industri pendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan itu tidak bisa memaksimalkan produksi.
"Kami meminta harga gas bisa turun hingga sesuai dengan harga keekonomian, yakni US$3 per million metric British thermal unit (mmbtu)," ujar Ketua Presidium Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat di Jakarta, kemarin.
Dengan harga gas yang masih di kisaran US$6 per mmbtu saat ini, ia mengatakan industri pupuk sulit untuk meningkatkan daya saing.
"Itu menjadi alasan yang menjadikan kita kebanjiran pupuk impor," tuturnya.
Kondisi pabrik yang sudah tua juga menjadi salah satu persoalan utama yang menyebabkan lemahnya produksi.
"Rata-rata pabrik usianya di atas 20 tahun dan menggunakan teknologi lama. Hal tersebut membuat konsumsi gas tinggi, yakni sekitar 35 mmbtu per ton dari konsumsi ideal 25 mmbtu per ton," urainya.
Saat ini kapasitas produksi pupuk di Tanah Air tercatat 13,3 juta ton, baik subsidi maupun nonsubsidi.
Sementara itu, kebutuhannya sekitar 13 juta ton dengan total yang disubsidi pemerintah sebanyak 9,55 juta ton.
(E-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved