ADA sebuah alasan mengapa bos-bos tertentu tidak pernah bisa dekat dengan karyawan mereka, bahkan kendati telah mencoba pendekatan dengan humor.
Sebuah riset baru menyarankan bos yang tidak andal dalam pekerjaannya sebaiknya jangan sembarang membuat lelucon dengan bawahannya.
Hasil penelitian Universitas Missouri itu berlawanan dengan anggapan lawas yang menyebut lelucon positif di tempat bekerja dapat meningkatkan moral atau motivasi para karyawan.
Orang-orang juga cenderung percaya seorang bos harus menghindari humor negatif, seperti yang berbau sarkasme, agar bisa disenangi karyawannya meskipun karya ilmiah dapat membuktikan kepercayaan tersebut masih sangat langka.
"Namun, jika hubungan antara bos dan karyawannya berjalan mulus, baik itu humor negatif maupun positif, tetap bisa meningkatkan level kepuasan karyawan. Demikian sebaliknya," ungkap Profesor Christopher Robert dari Universitas Missouri.
Ia menuturkan kesuksesan sebuah lelucon dalam meningkatkan level kepuasan karyawan dalam bekerja lebih terletak pada kualitas hubungan antara bos dan anak buahnya.
"Jadi, untuk para pemimpin, kadang humor positif bisa berdampak buruk dan humor negatif bisa berdampak baik terhadap bawahan mereka," lanjutnya.
Untuk menguji kebenarannya, Robert dan timnya melakukan studi kasus dengan menyebarkan dua set kuesioner, satu untuk para bos dan satu lagi untuk karyawan mereka.
Pengujian dilakukan terhadap 70 bos dan 241 karyawan di 54 organisasi.
"Hasil temuan mengungkapkan, andai seorang bos ingin memasukkan humor dalam interaksinya dengan karyawan, ia harus lebih dulu menilai akankah subordinatnya menilai itu sebagai hal positif atau tidak," tutur Robert.
Lebih lanjut, ia berpendapat, daripada berusaha untuk melucu, akan lebih baik jika pemimpin berusaha untuk membentuk ikatan yang solid dengan karyawannya lewat komunikasi yang jelas, perlakuan adil, dan umpan balik yang berguna.
"Maka, dengan sendirinya humor akan menjadi alat untuk menunjang proses pembinaan hubungan yang kuat itu," ujar Robert.
Namun, saat hubungan yang solid telah tercipta, bukan berarti sang bos bisa sewenang-wenang melontarkan sembarang canda.
Misalnya, lelucon yang memanfaatkan stereotip rasial atau seksual yang amat mungkin tidak dapat diterima secara positif oleh sebagian karyawan.