Ekonomi Tumbuh Tinggi Belum Tentu Berkelanjutan

Antara
15/11/2016 22:59
Ekonomi Tumbuh Tinggi Belum Tentu Berkelanjutan
(MI/USMAN ISKANDAR)

PAKAR ekonomi dan lingkungan hidup Emil Salim menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan (sustainable) apabila aspek-aspek seperti sosial dan lingkungan hidup diabaikan.

"Sustainable growth (pertumbuhan berkelanjutan) tidak selalu identik dengan high growth (pertumbuhan tinggi). Kalau high growth tapi menimbulkan kerusakan ya tidak ada artinya," ujar Emil saat media workshop di Jakarta, Selasa (15/11).

Menurut Emil, pertumbuhan berkelanjutan mengutamakan kualitas dengan beberapa aspek di dalamnya seperti integrasi antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Ia mencontohkan industri rokok yang menyumbang investasi sekitar US$1,9 miliar. Investasi itu memang dapat meningkatkan perekonomian domestik, namun dari sisi manfaat tidak tercapai.

"Income growth naik, tapi rokok itu kan menghancurkan otak anak muda,"
ujarnya.

Emil juga menyinggung industri perbankan dalam menyalurkan pembiayaan jangan hanya mengukur dari nominal ekonominya saja. Ia menilai pola pikir pimpinan bank juga perlu diubah dengan keharusan menyertakan analisis dampak sosial dan lingkungan dalam proyek yang dibiayai.

"Jangan lihat bank dari untungnya saja, tapi juga aspek sosial dan lingkungan secara serentak. Orientasi Lembaga perbankan harus berubah," kata Emil.

Presiden Joko Widodo pada awal November lalu sempat menyatakan keinginannya agar pertumbuhan ekonomi pada 2018 bisa melampaui 6 persen. Sementara itu, saat ini pertumbuhan masih di sekitar angka 5%. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya