Fundamen Ekonomi Positif

Fathia Nurul Haq
15/11/2016 07:50
Fundamen Ekonomi Positif
(ANTARA/Muhammad Adimaja)

MESKIPUN ketidakstabilan global akan berimbas panjang terhadap pasar saham dan keuangan di Tanah Air, fundamen perekonomian Indonesia yang baik diprediksikan tetap menarik di mata investor.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengemukakan hal itu menanggapi turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 116,23 poin (2,22%) ke posisi 5.115,73 pada perdagangan kemarin.

"Selain faktor Trump, ada efek psikologis investor terhadap rencana kenaikan suku bunga The Fed. Namun, saya tidak akan mengintervensi pasar untuk mencegah (capital) outflow," kata Tito, kemarin (Senin, 14/11).

Menurut Tito, dalam perdagangan kemarin tercatat Rp1,9 triliun modal mengalir keluar dari bursa saham Indonesia. Investor yang melakukan penjualan saham berasal dari sejumlah korporasi. Adapun investor individu ritel tetap melakukan pembelian.

"Artinya, ritel kita masih kuat. Domestik kita kuat. Laba bebe-rapa perusahaan hingga triwulan ketiga tumbuh 35% atau 15% secara <>year on year. Di negara lain enggak ada yang setinggi ini. Apa pesannya? Ke depan fundamen perusahaan mesti baik, mesti untung, sehingga masih beroperasi dengan bagus. Itu yang menarik di Indonesia," lanjut Tito.

Di sisi lain, kemarin nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta menguat 16 poin menjadi 13.364 per dolar AS jika dibandingkan dengan sebelumnya di level 13.380.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai pelemahan rupiah dan IHSG hanya bersifat temporer. "Saya optimistis kembali ke kondisi semula."

Dirut PT Bank Negara Indonesia Tbk Achmad Baiquni sependapat dengan Darmin. "Langkah yang penting ialah menjaga agar pasar tetap stabil sebab fundamen ekonomi kita bagus."

Wakil Direktur BRI Sunarso pun menilai fundamen ekonomi Indonesia bagus. "Baik itu emiten, perbankan, maupun makro."

Fundamen ekonomi yang bagus juga tecermin dari pertumbuhan kredit perbankan. Seperti penjelasan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon.

"Tahun ini kredit bisa tumbuh 7%-9%. Kalau melihat pertumbuhan September cukup bagus, yakni 1,58% secara month to month (MoM). Faktor pendorongnya ialah efek dari paket kebijakan pemerintah. Itu terefleksi pada pertumbuhan kredit."

Simpanan naik
Secara terpisah, Sekretaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Samsu Adi Nugroho menguraikan jumlah rekening simpanan yang dijamin LPS pada September naik 1,54% MoM.

"Kenaikan tertinggi ialah tabungan mencapai 1,62%, dari 180.246.604 rekening pada Agustus menjadi 183.175.226 pada September. Nominal simpanan tabungan juga naik 0,44% dari Rp1.426.888 miliar pada Agustus 2016 menjadi Rp1.433.119 miliar di September."

Sementara itu, untuk mengembangkan layanan keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech), kemarin Bank Indonesia (BI) meresmikan wadah fasilitator atau gugus tugas, yakni Fintech Office.

Menurut Gubernur BI Agus Martowardojo, tahun ini transaksi fintech Indonesia sudah mencapai US$14,5 miliar atau 0,6% dari total transaksi fintech global.

"Per Agustus 2016, transaksi nontunai lewat kartu debit mencapai 5,4 juta transaksi per hari dengan nominal Rp9,2 triliun per hari. Transaksi kartu kredit sebanyak 823 ribu per hari dengan nilai Rp743 miliar per hari dan transaksi uang elektronik mencapai 1,9 juta per hari dengan nilai hampir Rp20 miliar per hari."(Dro/Jes/Ant/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya