Rupiah tidak akan Terlalu Goyah

Dero Iqbal Mahendra
14/11/2016 05:01
Rupiah tidak akan Terlalu Goyah
(ANTARA/Muhammad Adimaja)

DAMPAK gejolak perekonomian dan pasar global seusai terpilihnya Donald Trump menjadi presiden ke-45 Amerika Serikat (AS) bakal terus menyebar.

Namun, fluktuasi tersebut belum akan membuat nilai tukar rupiah terus-terusan goyah karena ditopang kondisi fundamental ekonomi domestik cukup stabil.

"Ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. Justru seharusnya adanya tax amnesty dan masuknya dana repatriasi pada November dan Desember akan menguatkan rupiah," terang Direktur Penelitian CORE Indonesia Mohammad Faisal kepada Media Indonesia, kemarin.

Pelemahan rupiah sepanjang pekan lalu itu, imbuhnya, lebih disebabkan faktor psikologis pasar akibat pilpres AS dan spekulasi pasar.

Menurutnya, dalam jangka panjang pasar menunggu realisasi kebijakan Trump untuk membuat masuknya dana ke AS.

"Trump ingin memperbanyak peluang kerja dan memotong pajak korporasi untuk menarik investasi ke AS," urainya.

Faktor lainnya tidak begitu berpengaruh untuk mendorong pelemahan rupiah secara signifikan dalam waktu singkat.

"Satu-satunya isu terkait The Fed (Bank Sentral AS) yang berniat menaikkan suku bunga akhir Desember 2016, pengaruhnya tidak akan sekarang," ujar Faisal.

Kondisi itu juga tidak akan berlangsung lama mengingat situasinya masih sangat fluktuatif.

"Pasar masih wait and see dan pelemahan ini belum bersifat persistent seperti jatuhnya harga komoditas atau perlambatan ekonomi Tiongkok," ucapnya.

Menurut pengamat ekonomi Ina Primiana, pelemahan itu lebih bersifat spekulatif.

"Ada kemungkinan perusahaan yang membayar utang valas mereka jelang akhir tahun sehingga mendorong permintaan akan dolar naik. Dampaknya kepada sektor industri yang bahan bakunya masih banyak impor," tandasnya.

Terkait dengan nilai tukar, analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri memprediksi kurs rupiah pekan depan diprediksi berada di level 13.210-13.245 per US$.

Transaksi saham naik

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) pada periode 7-11 November 2016 melemah 2,44% ke level 5.231,971 poin jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya di posisi 5.362,660 poin.

Meski transaksi saham mengalami pelemahan, rata-rata frekuensi harian mencatatkan kenaikan 15,51% menjadi 354 ribu kali pada periode 7-11 November 2016 jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

"Nilai kapitalisasi pasar BEI tercatat mengalami penurunan sebesar 2,49% menjadi Rp5.658 triliun jika dibandingkan dengan Rp5.802 triliun pada akhir pekan sebelumnya. Pada periode itu, investor asing juga mencatatkan jual bersih Rp3,7 triliun," kata Kepala Komunikasi Perusahaan BEI Yulianto Aji Sadono dalam siaran pers di Jakarta, kemarin.

(Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya