Peran Millennial untuk Perjuangan Bangsa

Anastasia Arvirianty/E-2
14/11/2016 04:41
Peran Millennial untuk Perjuangan Bangsa
(ANTARA/Muhammad Adimaja)

"BERI aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

Tentu kita sudah sering mendengar jargon mantan Presiden Soekarno yang terkenal itu.

Jargonnya tidak semata-mata untuk membakar semangat pemuda.

Dari jargon tersebut, bisa dilihat bahwa pemuda membawa andil besar untuk perjuangan dan pembangunan Indonesia.

Meski begitu, peran generasi millennial dalam membangun negara saat ini tengah dipertanyakan.

Hanya sedikit yang bisa berkontribusi.

Sisanya?

Entah ke mana.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat dijumpai dalam acara sarasehan paguyuban Mas TRIP di Gedung Perbanas Jakarta, Sabtu (12/11).

Saut mengatakan masih ada anak muda yang belum tahu ingin berkontribusi apa untuk Indonesia.

Saut pun menjawab, dengan membantu memberantas korupsi, mulai hal yang kecil saja.

Ia mencontohkan petugas office boy yang menemukan tas berisi uang sekian juta rupiah di sebuah toilet di pusat perbelanjaan dan dengan penuh kesadaran mengembalikan uang tersebut dengan menyerahkan kepada petugas keamanan setempat.

"Ini contoh kecil, tapi kalau sikap semacam ini diterapkan mayoritas masyarakat, terutama generasi millennial, kan bagus. Awal kejujuran dan pengurangan korupsi," tuturnya.

Jika itu sudah dilakukan, kontribusi lain juga bisa datang dari segi perekonomian.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan pada 2030 nanti dunia harus mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Menurut Bambang, generasi millennial harus memiliki kreativitas dan daya pikir inovatif agar bisa membantu menciptakan nilai tambah bagi produk ekspor Indonesia.

"Kalau lihat sejarah, ini hampir tidak berbeda dengan zaman penjajaha dulu," ungkapnya.

Mengapa begitu?

Menurut Bambang, sejak zaman penjajahan dulu, Indonesia sangat bergantung pada hasil komoditasnya, tapi tanpa tahu bagaimana cara mengolah komoditas tersebut sehingga memiliki nilai tambah.

Karena itu, ketika komoditas terganggu, melemahlah ekonomi Indonesia.

"Ini digunakan sebagai senjata bagi negara lain untuk mengambil komoditas mentah kita, mengolahnya, dan menjual lagi ke Indonesia, tentunya dengan harga yang lebih tinggi sebab sudah bernilai tambah."

Di sinilah peran anak muda yang kreatif dan inovatif dibutuhkan.

Sekarang negara harus mengalihkan ekspor dari yang sifatnya ekstraktif, yang hanya menggali sumber daya alam lalu langsung diekspor tanpa ada nilai tambah, menjadi ekspor yang tidak lagi bahan mentah tetapi sudah ada nilai tambah.

"Tidak ada satu negara pun yang bergantung sepenuhnya dari sumber daya alam, sebab malah tidak bisa maju dan berpotensi jadi negara yang berantakan," tandas Bambang.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya