2.500 Desa Prioritas Dilistriki

14/11/2016 04:01
2.500 Desa Prioritas Dilistriki
(MI/Panca Syurkani)

RASIO elektrifikasi nasional saat ini baru 87% dari target 100% di 2019.

Pemenuhan pasokan kini difokuskan pada upaya melistriki 2.500 desa yang tersebar di daerah terpencil dan wilayah perbatasan Nusantara.

"Total desa yang harus dialiri listrik 12.500 desa. Namun, 10 ribu desa sudah ada listrik meski belum penuh 24 jam. Wilayahnya ada di Timur, Natuna, Papua, Ambon, NTT, pulau-pulau terluar, dan Kalimantan," papar Direktur Utama PT PLN (persero) Sofyan Basir saat peringatan Hari Listrik Nasional di Jakarta, Minggu (13/11).

Untuk tahap pertama setahun ke depan, PLN akan melistriki 2.500 desa tersebut.

Setelah itu meningkatkan pasokan listrik ke 10 ribu desa supaya menyala 24 jam.

Pihaknya juga akan fokus memenuhi kebutuhan listrik di Sumatra untuk kemudian menjajaki peluang ekspor listrik dalam jangka ke Malaysia.

"Kami sedang membangun jaringan 500 kilovolt (kv), 275 kv, 150 kv untuk Sumatra terintegrasi penuh."

Sementara untuk Pulau Jawa justru terjadi surplus pasokan yang kini mencapai 23 ribu megawatt (Mw) dengan sekitar 11 ribu Mw diserap di Jabodetabek.

Di sisi lain penggunaan teknologi ultrasuper critical (USC) di PLTU Batang, Jawa Tengah bisa menjadi model pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang memiliki produktivitas tinggi, namun ramah lingkungan.

"Kami ingin melihat langsung teknologi ramah lingkungan yang akan kami gunakan di Batang," kata Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir dalam kunjungan ke PLTU Isogo di Yokohama, Jepang, kemarin.

PLTU Batang dengan investasi US$4,2 miliar masih dalam proses konstruksi dan diharapkan mulai beroperasi pada Mei 2020.

Kepemilikan proyek dibagi mera-ta antara Adaro, J-Power, dan Itochu.

"Teknologi yang dikembangkan J-Power ini bisa menurunkan pelepasan sulfur, nitrogen, dan CO2 hingga 17%. Kami mengonsumsi sekitar 3 juta ton batu bara per tahun yang sebagian dipasok PT Adaro," kata Direktur PLTU Isogo Yazu Kotani. (Try/Tom/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya