Pangan-Tol Laut Harus Terintegrasi

Jessica Sihite
10/11/2016 05:10
Pangan-Tol Laut Harus Terintegrasi
(ANTARA/M AGUNG RAJASA)

INDONESIA harus mampu mengelola dan manfaatkan secara maksimal modal yang dimiliki dalam menghadapi kompetisi global berupa pangan, energi, dan air.

Harus ada manajemen terintegrasi untuk pemenuhan kebutuhan pangan yang didukung katersediaan energi dan kemudahan interkoneksi lewat transportasi tol laut yang efisien.

"Tiga hal ini sebetulnya kita memiliki kekuatan, tetapi belum dikelola secara baik dalam rangka mempersiapkan persaingan masa depan," ujar Jokowi saat memberikan sambutan dalam Munas VIII LDII di Jakarta, kemarin.

Untuk melepaskan diri dari ketergantungan impor pangan, Presiden memberi target kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, guna meningkatkan produksi dalam negeri.

"Saya sudah beri target kepada Mentan, di 2018 kita harus tidak impor lagi karena impor sudah turun 60% dengan adanya panen yang besar di NTB, Gorontalo, dan Jatim," ujar Jokowi.

Namun, pemerintah tidak bisa bergerak sendiri meningkatkan produksi pangan tanpa dukungan masyarakat.

Salah satu masalah ialah minimnya minat masyarakat untuk menanam.

"Problemnya hanya masalah harga. Tahun lalu waktu saya ke Dompu, ke Magetan, semuanya mengeluh harga jagung hanya Rp1.500/kg. Padahal, ongkos tenaga kerja, benih, pemeliharaan bisa sampai Rp1.700, berarti rugi. Siapa yang mau bekerja kalau rugi? Ini manajemen negara yang akan terus kita perbaiki dan benahi," tandasnya.

Di kesempatan terpisah, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan tol laut sudah menurunkan disparitas harga bagi masyarakat di Indonesia Timur dengan beroperasinya enam trayek tol laut.

"Harga semen di Pulau Sabu (Nusa Tenggara Timur) turun 14% dan harga ayam ras di Namlea (Maluku) turun 49%," ungkapnya.

Tol laut, imbuhnya, sudah mempercapat konektivitas antarpulau sehingga biaya menjadi lebih efisien.

Program itu pun akan terus diperluas trayeknya.

"Salah satu wacana memperluas trayek tol laut ialah melibatkan pelaku agrobisnis di Indonesia timur," ucapnya.

Para pengusaha agrobisnis harus mau menghasilkan barang yang produktif dari wilayah timur.

Nantinya diupayakan agar kapal dari timur tidak kosong saat kembali dari Indonesia barat.

"Kami akan merevitalisasi berbagai pelabuhan lewat peran BUMN dan swasta serta melibatkan semua pelaku perkapalan agar shipping di tol laut lebih produktif dan perusahaan galangan kapal juga akan eksis," tuturnya.

SIAL Interfood 2016
Upaya memperkenalkan poduk pangan nasional terus digencarkan.

Salah satunya lewat ajang SIAL Interfood 2016 yang diselenggarakan untuk ke-17 kalinya di JIEXPO Jakarta pada 9-12 November 2016.

"Industri pangan mempunyai peranan penting teruta-ma kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) industri nonmigas sebesar 33,27% pada triwulan II 2016," ujar Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin Gati Wibawaningsih saat pembukaan acara tersebut di Jakarta, kemarin.

Sementara itu, pertumbuhan industri makanan dan minuman mencapai 8,22%, lebih tinggi jika dibandingkan industri nonmigas yang 4,61%.

"Ajang ini diikuti 850 per-usahaan dari 25 negara," kata SIAL Network Director Nicholas Trentesaux. (Pol/Try/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya