Menuntun Perempuan Penenun agar makin Tekun

Abdillah M Marzuqi/E-3
04/11/2016 04:41
Menuntun Perempuan Penenun agar makin Tekun
(MI/Abdi)

FATIMAH, 22, ialah salah satu di antara puluhan perajin tenun di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Bagi mereka, menenun bukan lagi hal baru.

Sejak remaja mereka telah bersentuhan akrab dengan alat tenun.

Biasanya, kegiatan menenun dilakukan pada waktu senggang, di sela aktivitas harian, sembari mengurus rumah atau pergi ke ladang atau sawah.

Fatimah hanya menjadikan aktivitas menenun sebagai sampingan belaka.

Ia tidak serta-merta menjadikan tenun sebagai mata pencaharian utama sebab sering kali hasil jual tenun tidak menutup modal yang dikeluarkan untuk bahan.

"Sering kali hanya beroleh capek," katanya.

Itu cerita Fatimah dulu.

Harapan baru muncul dari Fatimah setelah ia mengikuti program dari Maybank Group.

Bertajuk Maybank Women Eco Weaver, program itu merupakan pemberdayaan ekonomi di tingkat regional bagi komunitas perempuan perajin tenun.

Program itu ditangani yayasan yang menangani corporate responsibility yakni Maybank Foundation.

"Ini salah satu program utama Maybank untuk mendukung semangat kebersamaan ASEAN dalam mengangkat dan mempromosikan tenun tradisional dengan tujuan memperkaya peran strategis kaum perempuan untuk mencapai kemandirian ekonomi dan inklusi keuangan di kalangan perempuan penenun di ASEAN," kata Chairman Maybank Group dan Maybank Foundation Tan Sri Dato' Megat Zaharuddin Megat Mohd Nor saat bersama Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria, Komisaris Maybank Indonesia Umar Juoro, dan CEO Maybank Foundation Shahril Azuar Jimin meluncurkan program itu di di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Lombok, NTB, Rabu (2/11).

Bersama Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil, pelaksanaan program dipusatkan di empat area, yakni Lombok Timur dan Lombok Tengah di Nusa Tenggara Barat, serta Sawahlunto dan Tanah Datar di Sumatra Barat.

Dalam program ini, Maybank memberi pendanaan mikro untuk modal awal serta menyelenggarakan pelatihan secara berkala kepada 400 perempuan penenun untuk tiga tahun.

Pelatihan itu terdiri atas pengetahuan teknik tenun, proses pewarnaan alami, pemasaran, promosi, dan literasi finansial.

"Pemberdayaan ekonomi merupakan salah satu fokus CSR Maybank Indonesia. Sejalan dengan misi humanizing financial services, kami memiliki komitmen untuk selalu berada dan tumbuh bersama komunitas termasuk komunitas perempuan perajin tenun," kata Taswin.

Hal itu juga menjadi upaya Maybank Indonesia memberi kontribusi positif dalam mendukung upaya pelestarian tenun Indonesia sebagai bagian dari khazanah kekakayaan tenun ASEAN dan mengangkatnya ke dunia internasional.

Sejak dirilis pada akhir 2015, program ini telah berjalan di Indonesia dan Kamboja.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya