Penjualan Baja Krakatau Steel Melonjak

01/11/2016 06:30
Penjualan Baja Krakatau Steel Melonjak
(ANTARA)

PT Krakatau Steel (persero) Tbk akan kembali memperluas pasar mereka di sembilan bulan pertama 2016.

Hal itu ditandai dengan volume penjualan perseroan yang tumbuh hingga 22,25% secara year-on-year (yoy) menjadi 1,68 juta ton jika dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 1,37 juta ton.

"Kenaikan penjualan dipicu permintaan baja domestik," sebut Direktur Utama PT Krakatau Steel Sukandar di Jakarta, Senin (31/10).

Konsumsi baja domestik meningkat akibat dampak proyek-proyek infrastruktur yang digenjot pemerintah serta upaya pemerintah dalam melindungi baja lokal.

"Jadi, ini imbas dari proyek infrastruktur yang sedang digenjot pemerintah dan pada Oktober ini kami telah menandatangani kontrak untuk memasok kebutuhan baja profil (besi siku) untuk proyek tower transmisi listrik PLN 46.000 kms (kilometer sirkit). Kebutuhannya mencapai 789 ribu ton dalam empat tahun ke depan," ujar dia.

Pada kesempatan itu, Sukandar juga berharap pemerintah segera merealisasikan penurunan harga gas.

Harga gas saat ini dinilai terlalu tinggi.

Menurut dia, jika harga gas turun, itu akan membuat produksi maksimal dan menambah kontribusi kepada negara.

"Sekarang kita minta US$3/mmbtu. Dari harga gas ini, kan, kita hanya bagian dari pengguna. Kita serahkan ke pemerintah," tambah dia.

Jika harga gas turun, dia menyebutkan, dua pabrik hulu Krakatau Steel yang memproduksi slab dan billets di Cilegon dapat dihidupkan kembali.

Hal itu disebabkan gas sangat berpengaruh bagi biaya produksi dan energi sehingga menyebabkan dua pabrik itu dimatikan sementara.

"Jadi, karena harga gas tinggi, tidak ekonomis untuk menjalankan pabrik yang reductor-nya itu pakai gas. Karena itu, pabriknya itu kami matikan. Jadi, yang pabrik di hulu kita matikan. Kalau harga gasnya murah gitu kan, misalkan US$3/mmbtu, kami akan hidupkan kembali (dua pabrik hulu Krakatau Steel itu)," ujar Sukandar.

Jika harga gas diturunkan, Iskandar memprediksi, hal itu dapat menghemat devisa antara US$1 miliar dan US$1,5 miliar per tahun dengan memproduksi slab dan billet dalam pabrik Krakatau Steel.

Dengan demikian, Indonesia tidak perlu melakukan impor baja jenis tersebut lagi dari luar negeri. (Adi/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya