Pegadaian Jajal Sektor Tanah

Fetry Wuryasti
28/10/2016 07:00
Pegadaian Jajal Sektor Tanah
(ANTARA)

UPT Pegadaian (persero) terus memperluas akses kelembagaan.

Setelah tahun lalu meluncurkan tabungan emas, kini perusahaan 'pelat merah' yang mayoritas konsumennya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah itu memulai pilot project-nya dengan produk gadai (rahn) tanah.

Direktur I PT Pegadaian Harianto Widodo menyampaikan pihaknya sedang menunggu hasil pembahasan untuk host to host dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) terkait pengecekan sertifikat hak milik tanah.

"Gadai (rahn) tanah sedang kami persiapkan. Sejauh ini proses sudah berjalan 80% dan sudah disetujui OJK. Harusnya selesai tahun ini. Tinggal host to host dengan BPN untuk pengecekan sertifikat tanah yang akan menjadi agunan. Nantinya Pegadaian bisa menerima agunan sertifikat tanah," ujarnya dalam acara BUMN Marketeers di Jakarta, Kamis (27/10).

Menurutnya, bila persetujuan pendataan dengan BPN berjalan, tentunya biaya untuk mengecek sertifikat tanah tidak perlu semahal layaknya melalui notaris.

"Misal kita mau beri pinjaman Rp5 juta-Rp10 juta, bila cek sertifikatnya lewat notaris akan menjadi mahal. Meskipun maksimal kami memberi pinjaman Rp200 juta, rata-rata pinjaman sekitar Rp16 juta saja. Dari sini juga terlihat segmen pasar kami," jelasnya.

Dengan memiliki lebih dari 4.000 cabang, Pegadaian bisa meraih pertumbuhan per Oktober 2016 sebesar 11,1% atau setara dengan Rp1,7 triliun daripada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada kategori pinjaman untuk mikro, lanjut Harianto, Pegadaian telah melayani sebanyak 1,6 juta transaksi atau 14, 8% masih melayani pinjaman di bawah Rp500 ribu, dan 61,89% melayani transaksi sampai dengan nominal Rp2 juta.

"Gambaran ini menunjukkan sasaran yang dilayani Pegadaian sangat mikro," tuturnya.


Tabungan emas

Sejak diluncurkan Oktober tahun lalu, kini nasabah tabungan emas telah mencapai 525.426 nasabah, 530.283 akun, dengan total deposit 582,2 kg atau senilai Rp320 miliar.

Menurut Harianto, pihaknya menargetkan dapat menarik 700 nasabah sampai akhir tahun.

"Rata-rata nasabah memiliki 1,2 gram atau setara Rp500 ribu," katanya.

Tabungan emas sendiri bukan produk tabungan sama seperti perbankan.

Produk ini berupa akad jual beli dan titip, sehingga atas transaksi tersebut nasabah akan memiliki tabungan yang disetarakan dengan gram emas sesuai dengan transaksi.

Menurut Harianto, nantinya bisnis emas ini akan dipisahkan (spin off) dari induk usaha karena sudah tidak masuk lingkup lembaga keuangan.

"Transaksi jual belinya akan dipisahkan. Tapi, titip emasnya masih dilakukan pegadaian. Kami diberi waktu oleh OJK dua tahun untuk spin off bisnis emas ini menjadi anak perusahaan," ulas Harianto.

Sebelumnya, Pegadaian menggandeng operator seluler Indosat Ooredoo untuk merambah bisnis pengiriman uang (remitansi) PT Pegadaian (persero) dengan mengeluarkan produk Dompetku Pengiriman Uang (DPU).

Direktur Utama Pegadaian Riswinandi menyatakan kerja sama tersebut bersifat strategis dan memberi keuntungan bagi kedua perusahaan.

Selain berpotensi menerima pendapatan berbasis komisi dari setiap transaksi pengiriman, perusahaan berpotensi memperluas basis nasabah.

Saat ini jumlah nasabah Pegadaian aktif tercatat sebanyak 7 juta nasabah dengan jumlah gerai 4.455 unit yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Ini menjadi potensi besar untuk meningkatkan kinerja kedua pihak. Apalagi kini telah didukung teknologi informasi di seluruh outlet," jelas Riswinandi. (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya