Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Indonesia (BI) akan mengembangkan kembali pasar Surat Berharga Komersial (SBK/Commercial Paper) sebagai alternatif sumber pendanaan jangka pendek dari pasar uang selain kredit perbankan.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menjelaskan, SBK merupakan surat berharga jangka pendek yang diterbitkan korporasi atau lembaga keuangan nonbank lain.
Biasanya bertenor kurang dari setahun.
Di luar negeri, lanjutnya, SBK biasanya diterapkan dengan tenor 270 hari.
Adapun BI berencana menerbitkan peraturan tentang SBK dengan tenor 360 hari.
"Commercial paper lumrah di pasar keuangan," tutur Mirza dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (24/10).
Dengan tambahan instrumen itu, korporasi dan lembaga keuangan nonbank bisa mendapat pendanaan jangka pendek di luar perbankan.
"Banyak perusahaan sulit mendapat tambahan modal kerja untuk memperluas usahanya," terang Mirza.
Ia pun mengungkapkan, sebenarnya, PBI terkait SBK sudah pernah diterbitkan pada 1995.
Namun, kehilangan pasar pascakrisis 1998.
Mirza menuturkan, ada sekitar Rp300 triliun-Rp350 triliun likuiditas dalam negeri yang berputar kembali ke BI.
Ia berharap dana tersebut dapat kembali ke sistem atau dimanfaatkan secara optimal untuk pendanaan jangka pendek di pasar uang.
"Jadi ironi kita lihat negeri ini masih butuh pendanaan dari luar negeri, tapi masih ada pendanaan yang kembali ke BI," kata Mirza.
Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsah menambahkan, tingkat kepercayaan terhadap SBK masih rendah.
Peran lembaga rating dalam memberi keyakinan pada investor juga belum optimal.
Selain itu, korporasi juga kurang familiar dengan SBK.
"Tujuan pengaturan pasar SBK sekarang yaitu membangun pasar yang kredibel, yang dapat meningkatkan kepercayaan issuers (penerbit) dan investor sehingga SBK menjadi sumber pembiayaan yang efektif dan efisien," imbuhnya.
Ia menambahkan, kelak akan ada beberapa syarat penting yang menyertai penerbitan SBK, seperti kewajiban rating minimal investment grade.
Terus turun
Dalam kesempatan terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengungkapkan pertumbuhan kredit hingga semester pertama 2016 masih dalam tren menurun.
Penurunan tersebut tidak terlepas dari lemahnya pertumbuhan ekonomi global yang berdampak pada perekonomian nasional dan turunnya permintaan kredit.
"Bahkan, secara kalender atau year to date, pertumbuhan kredit (tahun ini) hanya 2,2%," tuturnya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (24/10).
Walakin, Agus menilai itu masih lebih baik ketimbang beberapa negara jiran seperti Malaysia, Thailan, dan Singapura.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mencatat, pertumbuhan kredit perbankan per Agustus lalu hanya 6,83% year on year.
Turun dari laju tahunan pada Juli, yaitu 7,74%. Adapun laju pada awal tahun masih sempat menembus 8%.
Berbeda denga kredit, pertumbuhan obligasi korporasi menurutnya naik selama 6 bulan terakhir.
Hingga September 2016, penerbitan obligasi mencapai Rp80 triliun.
"Pertumbuhannya meningkat karena memanfaatkan tingkat bunga yang lebih rendah. Sampai akhir tahun kami perkirakan mencapai Rp120 triliun." (Pra/Ant/E-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved