Menjadi Inkumen bukan lagi Aib di Negeri Sakura

Andhika Prasetyo/E-4
24/10/2016 07:11
Menjadi Inkumen bukan lagi Aib di Negeri Sakura
(MI/Duta)

SOSOK Tetsuya Ando ialah seorang kutu buku.

Semenjak kanak-kanak, dia memang hobi melahap berbagai bacaan.

Kebiasaan itu ingin dia tularkan kepada buah hatinya yang saat itu masih berusia enam tahun.

Demi menumbuhkan minat baca sang putra, Ando rajin membacakan berbagai kisah di buku.

Berangkat dari kebiasaan itu, dia pun membuka sebuah taman bacaan bagi anak-anak.

Tanpa terasa, kini taman bacaan itu telah memiliki koleksi lebih dari 6 ribu buku.

Awalnya, banyak rekan-rekan Ando yang meremehkan kebiasaannya menemani tumbuh kembang anak.

Di Jepang, laki-laki yang mengasuh anak seperti aib.

Pasalnya, prioritas para suami di Negeri Sakura ialah bekerja, bekerja, dan bekerja.

Tinggal di rumah untuk menemani anak ialah tugas perempuan.

Kaum adam yang mengasuh anak dianggap gagal dalam karier.

"Semua orang berpikir mengasuh anak ialah tanggung jawab seorang ibu. Jika ada ayah yang terlihat mengurus anak, ia pasti akan dicap sebagai ayah yang gagal dan ditinggalkan sang istri," ujar Ando, seperti dilansir CNN, kemarin.

Dari situ, Ando menyadari betapa kakunya pola asuh di negaranya.

Dari situlah timbul ide di benak Ando untuk menbentuk program Fathering Japan pada dua dekade silam.

Perlahan program ini terus berkembang.

Saat ini program itu memiliki sepuluh cabang di seluruh Jepang.

Ia juga berkeliling 'Negeri Matahari Terbit' untuk memberikan arahan secara langsung kepada para kaum pekerja pria bagaimana menjadi ayah yang aktif.

"Semakin banyak orang menyadari bahwa mengasuh anak ialah tugas bersama," sebut Ando bangga.

Kini bahkan ada istilah baru bagi para ayah yang memiliki kegiatan mengasuh anak.

Istilah itu dikenal dengan 'inkumen'.

Secara perlahan, para suami di Jepang tidak lagi malu untuk menjadi inkumen dengan menghabiskan waktu bersama putra-putri mereka.

Bahkan, saat ini, program yang dirintis Ando telah resmi menjadi program pemerintah dan diaplikasikan ke seluruh wilayah Jepang dengan total alokasi dana mencapai US$500 ribu per tahun anggaran.

Direktur Ochonomizu University's Institute for Gender Studies, Masako Ishii-Kuntz, mengungkapkan, sejak program itu diperkenalkan, ada lebih banyak ayah yang tertarik menjadi ikumen.

Sayang, jumlahnya dirasa dia masih kurang.

Berdasarkan data pemerintah, hanya 2,7% pekerja pria di Jepang yang memanfaatkan jatah cuti keluarga.

Mereka kerap bekerja dengan pola dan waktu brutal yang bisa mencapai 13 jam per hari atau 78 jam seminggu.

"Banyak juga dari mereka yang khawatir mengambil jatah cuti akan memengaruhi nilai performa sehingga menghambat proses kenaikan jabatan."

Bahkan, lebih parah, cuti keluarga juga dapat diklasifikasikan sebagai periode pengangguran yang dapat menjadi penghambat ketika mencoba membeli rumah atau mengambil pinjaman.

Dalam jangka panjang, para ikumen yang ada saat ini diharap-kan dapat menjadi tokoh yang membawa perubahan terhadap budaya kerja di negara tersebut.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya