Potensi Terpendam sang Pengidap Autisme

Jessica Restiana Sihite/E-4
22/10/2016 04:55
Potensi Terpendam sang Pengidap Autisme
(MI/Duta)

SIAPA bilang pengidap gangguan spektrum austisme tidak bisa berkontribusi pada lingkungan sekitar?

Meski sering dianggap tidak normal, para pengidap autisme seperti memiliki magnet yang menarik dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Sebuah perusahaan teknologi berskala internasional, Hewlett Packard, baru saja merekrut seorang karyawan autis.

Layaknya orang autis pada umumnya, karyawan berusia 20 tahun itu memiliki keterampilan teknologi informatika (TI) yang mengesankan.

Bahkan, dia lebih terampil daripada para lulusan universitas.

Namun, tidak seperti yang lainnya, pria itu tidak memiliki keterampilan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Padahal, hal itu sangat dibutuhkan para pencari kerja untuk melewati tes wawancara.

Menurut psikolog Specialisterne, Jay Hobbs, hal itu yang menjadi sandungan umum bagi calon pegawai yang memiliki kondisi autis.

"Tidak mampu berkomunikasi dan mempromosikan diri ialah penghalang bagi orang dengan sindrom autis. Namun, mereka sangat baik melakukan semua hal. Pria muda itu belajar dengan autotidak, jadi dia sangat terampil," kata Hobbs seperti dikutip dari Theguardian.com, kemarin.

Dia pun pernah bertemu dengan seorang pengidap autisme di Queensland, Australia, yang kesulitan saat proses wawancara.

Namun, ia sangat terampil saat kemampuannya di bidang programming atau mengutak-atik perangkat lunak (sofware) dites.

Hobbs memperkirakan ada sekitar 230 ribu penduduk Australia yang mengidap autisme.

Autisme didefinisikan sebagai kondisi perkembangan seseorang yang berdampak pada hubungan dan interaksi dengan lingkungan sekitar.

Penelitian terbaru membuktikan angkatan kerja yang mengalami gangguan autis ada sebanyak 42%.

Jumlah itu lebih kecil ketimbang angkatan kerja penyandang disabilitas, 53%, dan 83% angkatan kerja tanpa penyandang disabilitas.

Jeanette Purkis, penulis dan pengacara bagi komunitas autis, mengatakan banyak orang autis sangat berjuang mati-matian saat menghadapi wawancara kerja.

Menurutnya, berada di depan tiga orang yang akan menembaknya dengan berbagai pertanyaan sekaligus menentukan masa depannya membuat mereka grogi dan stres.

Kendati banyak perusahaan yang enggan merekrut pengidap autisme, ada pula yang menyadari manfaat dari karyawan demikian.

Perusahaan tambang seperti Weir Minerals dan perusahaan pemrogaman seperti Salesforce, Bankwest, dan Hewlett Packard ialah yang melihat sisi emas dari para pengidap autisme.

Perusahaan perangkat lunak multinasional, SAP, bahkan berkomitmen memiliki tenaga kerja pengidap autisme sebanyak 1% dari total pekerja pada 2020.

Dr Tele Tan dari Curtin University tidak terkejut dengan makin maraknya perusahaan dunia yang mempekerjakan orang autis.

"Pengidap autisme cenderung sangat detail, punya konsentrasi tinggi pada tugasnya," ujar Tan saat membeberkan hasil kajian.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya