Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SINERGI sektor keuangan untuk mendongkrak perekonomian nasional sudah dirajut pemerintah sejak dua tahun lalu. Kendati efek perlambatan tetap terasa, kebijakan pemerintah mampu membuat perekonomian Indonesia tumbuh lebih cepat dari ekonomi global.
Demikian diungkapkan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad dalam OJK Goverment PR Forum dengan tema Komunikasi dan kebijakan publik di era digital di Jakarta, kemarin (Kamis, 20/10).
"Saya kira apa yang ditempuh terutama untuk merespons tantangan ekonomi menurut saya sudah tepat. Paket-paket kebijakan sudah diupayakan untuk meres-pons, terutama merespons karena memang pelemahan ekonomi dunia terus berlanjut, terutama sejak dua tahun lalu, sehingga respons yang struktural menurut saya sangat diperlukan," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, perekonomian Indonesia berhasil tumbuh sekitar 5% hingga kuartal II 2015 di tengah perlambatan perekonomian global yang diprediksi Dana Moneter Internasional (MF) hanya akan tumbuh 3,1% sepanjang 2016 dan tumbuh 3,4% tahun depan.
Muliaman pun melihat peluang perlonggaran moneter bisa terus berlanjut melihat tren inflasi yang relatif rendah. "Saya kira memungkinkan itu dengan inflasi yang rendah kemudian juga tingkat bunga yang ditawarkan bank-bank juga sekarang single digit."
Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day (reverse) repo rate dari 5% menjadi 4,75%, dan mulai berlaku pada 21 Oktober 2016. Penurunan juga diikuti suku bunga deposit facility yang turun 25 bps menjadi 4% dan lending facility yang turun 25 bps menjadi 5,5%, yang berlaku efektif sejak 21 Oktober 2016.
"Di tengah masih lemahnya perekonomian global, pelonggaran kebijakan moneter tersebut diyakini semakin memperkuat upaya untuk mendorong permintaan domestik, termasuk permintaan kredit, sehingga dapat terus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, kemarin.
Namun, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2016 akan cenderung tidak sekuat perkiraan sebelumnya yakni di kisaran 5% atau sedikit di bawah angka itu akibat belum membaiknya perekonomian global.
"Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2016 diperkirakan cenderung mendekati batas bawah kisaran 4,9%-5,3% (yoy)," terang Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung.
Belum efektif
Sebaliknya, ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Eko Listiyanto menjelaskan, meski bank sentral sudah mengganti kebijakan suku bunga acuan menjadi BI 7-Day (reverse) repo rate, implementasinya terhadap suku bunga kredit belum efektif terlaksana.
Pasalnya pemerintah masih agresif dalam berutang dengan menerbitkan bermacam-macam obligasi negara dengan yield yang lebih menarik di pasar. Hal itu berimpak pada likuiditas pasar keuangan, terutama di sektor perbankan.(Arv/Ant/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved