Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
Pabrik yang memproduksi 8-10 ton kapur per hari itu membutuhkan gas 160 ribu m3 per bulan untuk pembakaran bahan baku dengan harga Rp1.680 per m3.
PT Perusahaan Gas Negara (persero) Tbk terus merambah pelanggan dari kalangan industri. Perusahaan pelat merah itu menyasar seluruh industri yang ada di kawasan Cirebon dan sekitarnya.
"Sepanjang tahun ini, kami menargetkan penambahan 14 pelanggan industri. Dua di antaranya sudah menikmati aliran gas alam pada Agustus lalu, yakni industri tutup botol air mineral dan garmen. Tinggal 12 industri lagi, November sudah teraliri gas PGN," ucap Sales Area Head PGN Cirebon Ade Sutisna di Cirebon, Jawa Barat, Senin (17/10) malam.
Ke-12 industri tersebut rencananya menerima aliran gas PGN dari pipa gas Kanci-Brebes. Saat ini, pipa berukuran 6 inci tersebut masih dalam proses pembangunan dan ditargetkan rampung bulan depan. "Kapasitas pipa gas Kanci-Brebes cukup besar. Masih mampu mengalirkan ke lebih dari 12 industri," tukas Ade.
Saat ini, total pelanggan PGN Cirebon sebanyak 19.265, terdiri atas 18.794 pelanggan rumah tangga, 194 pelanggan kecil, 65 pelanggan industri manufaktur dan pembangkit, dan 31 pelanggan industri jasa komersial.
Penambahan pelanggan 12 industri, kata Ade, mayoritas akan berasal dari industri makanan yang sebelumnya menggunakan kayu bakar, minyak tanah, dan elpiji.
Ade menandaskan PGN sepanjang tahun ini memang berfokus pada penambahan jumlah pelanggan dari industri. Pasalnya, konsumsi gas alam dari industri mencapai 80% dari total pemakaian gas PGN.
"Tahun ini fokus kita memang ke rumah tangga dan industri. Masih banyak juga peminatnya. Banyak yang daftar ke kita mengajukan permohonan aliran gas ke industri mereka," papar Ade.
Ekonomis dan bersih
Direktur CV Sumberjaya Kapur Dadang Iskandar menyatakan penggunaan gas alam sangat membantu industri kapurnya. Pabrik yang memproduksi 8-10 ton kapur per hari itu membutuhkan gas minimal 160 ribu m3 per bulan untuk pembakaran bahan baku.
"Gas ini komponen terbesar di biaya produksi, 30%-40% dari total biaya. Bahan baku batu kapurnya kita bakar, hasilnya macam-macam. Kita jual ke industri batu bata ringan. Kosmetik dan gula juga pakai ini," papar Dadang, kemarin (Selasa, 18/10).
Menurutnya, gas alam pipa lebih menghasilkan kapur yang lebih bersih ketimbang pembakaran dengan batu bara atau bahan bakar minyak. "Kalau pakai gas, bersih. Lebih praktis juga," cetusnya.
Karena besarnya komponen gas dalam usahanya, Dadang berharap harga gas industri tidak naik dari yang saat ini sebesar Rp1.680 per m3. "Per bulan biaya Rp300 juta-Rp375 juta untuk biaya gas, tidak mahal. Kita harap harganya tidak naik," imbuhnya.
Staf bidang akuntansi PT Genteng Teracotta Industri Agus Nugraha mengatakan harga gas membuat usahanya berdaya saing di antara usaha genteng tanah liat lainnya. Gas yang dipakai pun menghasilkan cetakan genteng yang bersih ketimbang membakar dengan minyak. "Harga gas sekarang sudah membuat kita berdaya saing. Kontraknya Rp2.340 per m3," tukasnya.
Namun, dia berharap harga gas bisa diturunkan sesuai keinginan Presiden Joko Widodo supaya usahanya bisa terus berekspansi dan menyaingi genteng metal yang tidak terlalu membutuhkan banyak gas. "Kita sudah ekspor ke Malaysia. Namun, Jepang sudah ikut memproduksi genteng tanah liat dan harganya lebih murah," tandasnya. (E-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved